Archive for Agustus, 2008

Tips mengetahui penyebab diare pada hewan kesayangan

Bagi dokter hewan masalah diare adalah masalah yang sering dihadapi. Penyakit sistem saluran pencernaan di hampir semua dokter hewan praktek menduduki peringkat tertinggi. Karena hewan tidak bisa diajak bicara maka dokter hewan akan mengamati dengan seksama perubahan-perubahan yang terjadi pada hewan kesayangan. Bila menyangkut diare maka banyak hal yang harus diperhatikan agar mengetahui penyebab diare tersebut. Bagi pemilik juga menjadi bagian yang sangat penting untuk mengetahui perubahan yang terjadi, sehingga akan dapat membantu dokter hewan untuk mengatasi masalah pada hewan kesayangannya.

(lagi…)

Agustus 25, 2008 at 6:49 am Tinggalkan Komentar

Sumber utama penularan toksoplasma bukan dari kucing?

Toksoplasma adalah penyakit yang sudah sangat kita kenal, meskipun mungkin tidak kita pahami dengan baik. Masih banyak di antara kita (bahkan dokter) yang menyebut penyebab toksoplasmosis, yaitu Toksoplasma gondii itu adalah kuman atau bakteri, atau virus. Toksoplasma adalah parasit, protozoa. Bukan kuman, bukan virus.

Proses penularan toksoplasma adalah melalui makanan (mulut), baik itu bila menyerang pada kucing atau hewan-hewan lain bahkan pada manusia. Dan ini berarti kucing bukan merupakan satu-satunya sumber penularan bagi manusia. Untuk itu maka yang harus kita cermati untuk mencegah terjadinya penularan adalah menjaga kebersihan cara makan dan bahan pangan kita, atau hewan kesayangan kita.

(lagi…)

Agustus 25, 2008 at 5:10 am 4 komentar

Penyebab stress pada hewan coba

Bagi peneliti atau siapapun yang berkutat dengan hewan coba, baik itu mencit, tikus, kelinci atau hewan coba yang lain ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan stress. Hewan coba juga dapat menderita stress. Hal ini wajib diketahui oleh para peneliti atau siapapun yang berhubungan dengan hewan coba terutama bila penelitiannya mempunyai variable yang berhubungan dengan stress.
Banyak hal yang dapat menimbulkan stress pada hewan coba, hewan apa saja yang mudah mengalami stress, perlakuan seperti apa saja yang menimbulkan stress. Pada penelitian yang menghindari pengaruh-pengaruh terhadap variable penelitiannya wajib mengetahuinya. Demikian juga pada penelitian yang justru ingin mempelajari pengaruh stress terhadap variable-variable penelitian yang lain juga perlu mengetahuinya.
Untuk lebih jelasnya silahkan baca sendiri ditautan berikut, filenya dalam bentuk pdf. Laboratory routines cause animal stress.

Agustus 25, 2008 at 1:56 am Tinggalkan Komentar

Cacing Trematoda pada Ayam di Indonesia

Cacing ini ditemukan oleh Simon He dan Lili Zalizar dalam penelitian terhadap kerugian produksi daging akibat infeksi alamiah cacing saluran pencernaan pada ayam buras di Bogor dan sekitarnya.

Cacing tersebut ditemukan di dalam sekum ayam. Pada mulanya cacing tersebut diduga Catatropis verrucosa. Namun dengan pemeriksaan yang lebih teliti, dengan pewarnaan Semichon’s acetocarmine disertai pengukuran diperoleh informasi yang cukup mengejutkan.

(lagi…)

Agustus 22, 2008 at 2:20 am Tinggalkan Komentar

Perbedaan disfagia orofaring dan esofagus

Disfagia adalah kesulitan atau ketidakmampuan menelan. Penyebab disfagia bisa bermacam macam. Penting untuk mengetahui perbedaan disfagia karena gangguan orofaring dan esofagus. Bila tidak diamati dengan seksama, maka gejala ini sangat mirip. Hewan tidak bisa bicara, beda dengan manusia yang dengan mudah menyampaiakan keluhan yang dihadapi. Bila pemilik tidak mengamati hewan kesayangannya dengan seksama maka gejala disfagia ini, seringkali keluhan sudah cukup terlambat untuk disampaikan pada dokter hewan. Dan pengamatan dari pemilik tersebut sangat membantu dokter hewan untuk mengidentifikasi problema yang dihadapi hewan kesayangan tersebut.

(lagi…)

Agustus 19, 2008 at 9:47 am 2 komentar

Pemeriksaan dermatologi pada pediatrik

Tiga tahapan penting dalam melakukan diagnosis pada kasus dermatologi pada pediatrik, yaitu menentukan pola lesi,  menentukan diferensial diagnosis dan menetapkan diagnosis yang tepat. Menetapkan diagnosis pada kasus dermatologi pediatrik tidak berbeda dengan melakukan diagnosis pada hewan dewasa. Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan lesi primer atau  sekunder pada pasien sebelum melakukan pemeriksaan lain lebih lanjut.

Lesi

Lesi primer : Makula, patch, papula, plak, pustula, vesikula, bulae, wheal, nodula, tumor, dan siste. Lesi sekunder : Ekskoriasi, abrasi, erosi, ulserasi, fisura, likensifikasi, kalus. Lesi yang bisa primer ataupun sekunder adalah : alopesia, scale krusta, folikuler cast, komedo, pigmentasi abnormal.

Setelah itu kita dapat menentukan pola lesi setidaknya dalam 8 kategori yaitu :

  • Pigmentary dermatosis
  • Vesiculo-pustular dermatosis
  • Papulo-nodular dermatosis
  • Alopecia dermatosis
  • Erosive-ulcerative dermatosis
  • Exfoliate dermatosis
  • Indurate dermatosis
  • Maculo-papular dermatosis

Penyebab penyakit yang paling sering pada pediatrik

Ektoparasit. Penyakit kulit yang disebabkan ektopatrasit paling sering ditemukan pada neonatus atau anjing dan kucing muda. Yang paling umum ditemukan adalah demodecosis, otodectes, scabies, cheyletiellosis, caplak.

Diketahui beberapa breed anjing mempunyai masalah imunitas yaitu Shar pei, English bulldog, Scottish terrier, Great dane. Demodecosis pada anjing bersifat lokal atau general. Gejala demodekosis lokal biasanya ringan, jarang disertai pyoderma dan pruritus, dan umumnya akan sembuh spontan sebelum berumur 8 minggu. Penggunaan acarisida tidak cukup perlu untuk mengatasi penyakit ini. Demodekosis general atau sistemik meruapakan penyakit kulit yang berat dan menyebabkan frustasi karena sulit disembuhkan. Prognosis sangat bergantung pada luas dan keparahan lesi dan perawatan yang dilakukan. Dahulu euthanasia selalu menjadi pilihan karena sulitnya mengatasi penyakit ini, namun saat ini 90% bisa diatasi. Kedua penyakit ini baik demodekosis lokal maupun general bermula pada saat neonatus. Diagnosis didasarkan scraping kulit dan histopatologi. Terapi harus mempertimbangkan kondisi imunosupresif dan keparahan akibat obat. Komplikasi seringkali akibat infeksi sekunder  sehingga membutuhkan pemberian antibiotika selama beberapa minggu selain acarisida. Penggunaan ivermectin dan acarisida seperti amitraz sangat membantu mengatasi penyakit ini.

Infeksi bakterial pada kulit umum ditemukan pada neonatus ataupun anjing atau kucing muda. Impetigo dan superficial bacterial folliculitis adalah penyebab paling umum dari superficial pyoderma pada pediatrik.

Impetigo ditandai pustula subkorneal pada daerah yang tidak berambut. Kondisi ini tidak menular dan berlangsung sebelum pubertas. Umumnya tidak disertai rasa gatal atau pruritus. Penyebabnya bisa karena parasit, infeksi virus, lingkungan yang kotor, penyakit yang berkaitan dengan kekebalan tubuh, ataupun karena kekurangan nutrisi. Penyakit ini dapat sembuh spontan, namun kadangkala diperlukan terapi untuk mencegah kondisi yang semakin parah. Topikal terapi cukup untuk mengatasi penyakit ini.

Superficial bacterial folliculitis adalah infeksi yang terbatas hanya pada area superfisial folikel rambut. Penyebab yang paling sering adalah Staphylococcus intermedius, meski bakteri yang lain juga dapat menyebab penyakit ini. Penyakit ini timbul akibat trauma lokal, goresan, seborrhea, demodecosis, faktor hormonal, iritasi lokal atau alergi. Tiga penyebab yang paling sering adalah Staphylococus intermedious, Dermatophyte, Demodex canis. Lesi alopesia multifokal dan papularpustular adalah gejala khas pada ketiga penuebab penyakit ini.

Otodetes juga merupakan penyakit yang palig sering terjadi pada pediatrik. Otodectes hidup pada permukaan debris di kanal telinga atau permukaan kulit dan dapat memicu pruritus yang asimptomatis. Diagnosis dapat menggunakan otoskop atau memeriksa eksudat menggunakan mikroskop. Pemberian terapi sebaiknya meliputi seluruh permukaan kulit, karena meski Otodectes hidup di kanal telinga namun seringkali juga berkelana ke permukaan kulit jauh dari telinga. Terapi harus diteruskan hingga 4 minggu, karena umur hidup tungau ini 3 minggu.

Infestasi pinjal. Pinjal atau (fleas) yang menyebabkan fleas bite dermatitis jarang ditemukan pada pediatrik. Namun demikian serangan pinjal dapat menggangu kesehatan secara umum. Pinjal dapat menjadi perantara penyakit lain seperti Pasteurella sp, Bartonella sp., cacing pita, tularemia dan lain-lain Pada pediatrik, anemia dapat terjadi akibat serangan pinjal yang parah. Pemberantasan pinjal pada pediatrik juga harus hati-hati karena efek samping insektisida yang digunakan.

Alergi. Penyakit alergi dermatitis yang sering terjadi pada neonatus atau anjing dan kucing muda adalah atopic dermatitis serta cutaneous adverse food reaction. Predisposisi penyakit ini biasanya bersifat genetik. Penyakit ini berkaitan dengan IgE terhadap alergen lingkungan seperti tungau debu, serbuk bunga, spora, insekta dan alergen lain-lain. Penyakit ini juga sering terjadi pada anjing dewasa, diperkirakan sebesar 10-15% anjing menderita atopic dermatitis. Dokter hewan harus curiga terhadap penyakit ini bila menemukan gejala-gejala seperti pruritus, bacterial folliculitis, Malassezia dermatitis, otitis eksterna. Ada tiga hal yang harus menjadi pertimbangan untuk mendiagnosis atopic dermatitis, yaitu

  • Sejarah atau anamnesis
  • Pemeriksaan fisik, ditemukan gejala-gejala yang mengarah
  • Diferensial diagnosis, sudah telah dilakukan ”rule out” terhadap penyakit-penyakit lain yang mirip dengan atopic dermatitis.
  • Selain itu bial diperlukan, adalah melakukan skin test bukan serum allergy test untuk mengetahui sumber alergennya.

Pruritus biasanya menjadi gejala utama pada penderita atopic dermatitis. Daerah-daerah gatal yang ditemukan dapat dijadikan langkah untuk mengarahkan dugaan kuat terjadinya atopic dermatitis. Penderita atopic dermatitis biasanya merasa gatal pada daerah wajah, area periocular, pipi dan muzzle. Selain itu pada telinga termasuk otitis eksterna. Bagian bawah tubuh atau ventrum seperti leher, aksila, abdomen dan inguinal. Ekstrimitas belakang, karpal dan tarsal, digital dan bagian antara digital. Bagian tubuh lain yang berkaitan dengan atopic dermatitis adalah perineum,

Gejala awal biasanya bermula sejak 6 bulan. Beberapa penyakit yang mengikuti atopic dermatitis biasanya adalah Staphyllococcal pyoderma, Malassezia dermatitis dan otitis eksterna (lebih dari 86% dari penderita atopic dermatitis). Sekitar 10% penderita atopic dermatitis juga mempunyai masalah dengan food adverse reaction.

Gambaran klinis yang dapat dijadikan pedoman menduga terjadinya food adverse eaction adalah :

  • Umur. Biasanya terjadi pada umur yang sangat muda yaitu kurang dari 7 bulan atau pada umur yang sangat tua biasanya lebih dari 7 tahun.
  • Pada mulanya terjadi pruritus yang sangat.
  • Sama sekali tidak ada respon terhadap pemberian glukokortikoid.
  • Ada kaitannya dengan gejala-gejala sistem pencernaan.

Upaya utama melakukan terapi adalah menghilangkan penyebabnya kemudian memberikan obat-obatan yang dapat mengurangi gejala inflamasi seperti pemberian antihistamin, pemberian asam lemak esensial, anti inflamasi topikal. Namun bila langkah tersebut masih belum memberikan respon yang baik maka dapat menggunakan glukortokoid dan cyclosporin. Namun penggunaan kedua obat tersebut harus dengan pertimbangan yang matang pada neonatus karena efek sampingnya.

Infeksi fungi. Mikosis superfisialis sering terjadi pada neonatus atau anjing dan kucing anakan. Diantara sekian banyak penyebab penyakit mikosis superfisialis adalah dermatophytosis. Organisme penyebab penyakit ini antara lain adalah Microsporum sp., Trychophyton sp., Epidermophyton sp, namun yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab pada anjing muda adalah Microsporum sp.  Penyakit ini bersifat zoonosis. Anjing yang mempunyai kekebalan tubuh yang baik biasanya tidak mudah terserang penyakit ini. Neonatus rentan terhadap penyakit ini diduga karena sistem kekebalannya masih belum berkembang. Manisfestasi klinis dermatophytosis pada anjing muda adalah alopesia fokal atau multifokal. Diagnosis biasanya membutuhkan peneguhan menggunakan kultur media agar dextrosa Saboureaud atau memakai dermatophyte test medium (DTM). Terapi pada kasus ini harus membuang fungi dari  kulit atau rambut penderita, selain itu perlu melakukan desinfeksi lingkungan, meminimalkan kontak dengan hewan lain ataupun orang serta mencegah kontaminasi ulang dari lingkungannya. Terapi topikal cukup efektif menggunakan elinconazol atau miconazol. Sedangkan bila diperlukan menggunakan obat antifungal sistemik dapat memakai griseofulvin 25-50 mg/kgB dengan interval 12 jam, itraconazole 10-20 mg/kgBB dengan interval 24 jam atau ketoconazol 10 mg/kgBB dengan interval 12-24 jam. Desinfeksi lingkungan dapat menggunakan larutan lime sulfur 1:30 atau cairan pemutih 1:10 atau enilconazol 20 μl/ml.

Agustus 12, 2008 at 5:35 am Tinggalkan Komentar


Klik tertinggi

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 50,727 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.