Toksoplasma adalah penyakit yang sudah sangat kita kenal, meskipun mungkin tidak kita pahami dengan baik. Masih banyak di antara kita (bahkan dokter) yang menyebut penyebab toksoplasmosis, yaitu Toksoplasma gondii itu adalah kuman atau bakteri, atau virus. Toksoplasma adalah parasit, protozoa. Bukan kuman, bukan virus.
Proses penularan toksoplasma adalah melalui makanan (mulut), baik itu bila menyerang pada kucing atau hewan-hewan lain bahkan pada manusia. Dan ini berarti kucing bukan merupakan satu-satunya sumber penularan bagi manusia. Untuk itu maka yang harus kita cermati untuk mencegah terjadinya penularan adalah menjaga kebersihan cara makan dan bahan pangan kita, atau hewan kesayangan kita.
Kalau kita sudah berusaha untuk berlaku bersih, bagaimana sebetulnya sumber makan kita. Kali ini saya mencoba untuk menyampaikan beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti-peneliti. Tahun 1991, Sasmita menyatakan 42,4% dari 125 ekor kambing yang disembelih di RPH Surabaya positif toksoplasma sedangkan 40% dari 35 ekor kambing yang disembelih di RPH Malang, 40% positif toksoplamosis. Tahun 1992, dilaporkan bahwa dari 40 ekor kambing yang disembelih di Kediri, sebanyak 20% dinyatakan positif menderita toksoplasma. Berdasarkan jenis kelamin tidak berbeda kejadian pada kambing jantan dan kambing betina. Sebelum itu, Dafee et al. (1976) menyatakan bahwa kambing di Kalimantan Selatan 61% dari 18 kambing yang diperiksa positif toksoplasma.
Pada tahun 2004 ditemukan 26 dari 50 sampel positif pada kambing dan domba yang dipotong di RPH Surabaya. Temuan ini (52%) ternyata lebih besar dibanding temuan Sasmita (1991) yang pernah meneliti yaitu sebesar 42,4%.
Pada pemeriksaan daging babi yang dipotong di RPH Surabaya ditemukan 20% dari 30 sampel positif mengadung kista toksoplasma. Diketahui sebanyak 6,7% pada babi yang berasal dari Tulung Agung, dan 13,3% dari babi yang berasal dari Bangil. Sedangkan babi yang berasal dari Sragen, Krian dan Malang tidak ditemukan kista toksoplasma di dalam dagingnya.
Yang lebih menarik dari itu semua dan mungkin cukup mengejutkan, dari sigi toksoplamosis pada daging ayam di beberapa pasar di Surabaya pada tahun 2004 ditemukan bahwa 18% dari seluruh daging ayam yang diperiksa positif toksoplasma. Sebanyak 12% daging ayam ras dinyatakan positif mengandung toksoplasma dan 6% daging ayam buras yang diperiksa positif mengandung toksoplasma. Penelitian ini bukan merupakan penelitian serologis, karena mengambil sampel daging kemudian ditumbuhkan di dalam mencit. Hal ini berarti di dalam daging yang diperiksa memang mengandung toksoplasma.
Sementara itu pada tahun 2004 juga dilakukan penelitian pada anak kucing atau kucing muda liar atau jalanan di Surabaya, dari 100 ekor kucing tidak menemukan seekorpun yang mengeluarkan ooksita toksoplasma dari kotoran yang diperiksa. Sampel ini diperoleh dari daerah Surabaya Utara, Surabaya Pusat, Surabaya Timur, Surabaya Barat dan Surabaya Selatan.
Mudah-mudahan informasi tersebut tidak membuat kita takut, ngeri untuk makan sumber protein terutama daging. Sekaligus tidak seratus persen menyalahkan kucing sebagai penyebab terjangkitnya toksoplasmosis. Yang harus disikapi adalah kita harus berlaku hidup bersih dan sehat. Masak sumber pangan kita dengan baik dan sebaik-baiknya. Hindari makan makanan yang tidak dimasak bila kita tidak yakin itu bersih. Dan selalu periksakan kucing kesayangan kita secara rutin kepada dokter hewan agar tehindar dari terjangkit toksoplasmosis. Karena bagaimanapun di dalam tubuh kucing saja toksoplasma dapat berkembang secara kawin dan menghasilkan ookista (telur yang sangat kecil) dan menjadi salah satu sumber penularan toksoplasma.
1.
agusrin | Maret 31, 2009 pada 3:10 pm
he’eh aku setuju bgt dg topik diatas. yg jd masalah sulitnya kt sbg veterinarian meyakinkan pd masyarakat awam yg udah terlanjur mendoktrin klu kucing sbg sumber utama penyebar. Tp aku jg pernah bc literatur klu tikus jg byk toxonya, bnr kan?
2.
agusrin | Maret 31, 2009 pada 3:13 pm
uda ada nggak semacam vaksinasi u toxoplasma pd kcg? soalnya yang pd minta nih klien2 pemilik kcg..
3.
triakoso | April 1, 2009 pada 6:25 am
Memang, tapi edukasi pada klien tetap terus harus dilakukan, bahwa kucing bukan satu-satunya sumber penularan bahkan sumber yang lain punya potensi yang lebih besar.
Saat ini memang belum ada vaksin untuk melakukan pencegahan terjadinya toksoplasmosis pada kucing atau hewan yang lain, termasukpada manusia seperti belum dengar ada vaksin anti toksoplasma. Untuk alat uji atau deteksi toksoplasma sudah ada. Mudah-mudahan ada yang tertarik untuk membuat vaksin toksoplasma atau barangkali memang sulit, karena dia adalah parasit. Dan parasit ini mampu beradaptasi pada kondisi apapun dengan berbagai jalan agar tetap survive sepanjang jaman.
4.
yonedi | Juni 6, 2009 pada 11:02 am
ok