Termoregulasi pada neonatus

Oktober 12, 2009

Perubahan kondisi terjadi pada neonatus yang baru lahir. Di dalam tubuh induknya, suhu tubuh fetus selalu terjaga, begitu lahir maka hubungan dengan induk sudah terputus dan neonatus harus mempertahankan suhu tubuhnya sendiri melalui aktifitas metabolismenya.

Semakin kecil tubuh neonatus, semakin sedikit cadangan lemaknya. Semakin kecil tubuh neonatus juga semakin tinggi rasio permukaan tubuh dengan massanya. Temperatur rektal biasanya lebih rendah 1-2 oF atau 0,556- 1,112 oC di banding suhu inti tubuhnya. Suhu membran timpani sangat akurat karena telinga tengah mempunyai sumber vascular yang sama sebagaimana vaskular yang menuju hipotalamus. Oleh karena itu, termometer telinga secara teknis dapat digunakan pada semua spesies. Langkah ini merupakan tantangan dalam penggunaan termometer terutama dalam mengukur suhu tubuh melalui membrana timpani. Metode-metode lain untuk mengetahui suhu tubuh pada oral, aksila, atau permukaan tubuh sangat tidak akurat.

Suhu permukaan kulit meningkat atau turun sejalan dengan perubahan suhu lingkungan. Sedangkan suhu inti tubuh diatur oeh hipotalamus. Namun pada pediatrik, pengaturan tersebut masih belum matang dan belum efisien. Oleh sebab itu pada pediatrik ada lapisan yang penting yang dapat membantu untuk mempertahankan suhu tubuhnya serta mencegah kehilangan panas tubuh yaitu rambut, kulit dan lapisan lemak bawah kulit. Ketiga lapisan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan efisien atau tidak bergantung pada ketebalannya. Sayangnya sebagian besar pediatrik tidak mempunyai lapisan yang tebal pada ketiga unsur tersbut. Transfer panas melalui lapisan pelindung tersebut dengan lingkungan berlangsung dalan dua tahap. Tahap pertama panas inti tubuh disalurkan menuju kulit. Tahap kedua panas tubuh hilang melalui radiasi, konduksi, konveksi atau evaporasi.

Pada hewan yang normal ada beberapa reaksi tubuh dalam menghadapi kedinginan. Reaksi behavior adalah dengan mencari tempat berlindung dan curling up (melingkarkan tubuh, melungker). Terjadi juga reaksi fisiologi yaitu terjadinya piloereksi, vasokonstriksi dan menggetarkan tubuh. Piloereksi akan meningkatkan kedalaman atau ketebalan insulasi tubuh dengan membentuk lapisan di sekitar tubuh. Vasokonstriksi arteriole kulit dan anastomosis arteriovenous membatasi kehilangan panas tubuh dari ekstrimitas. Menggetarkan tubuh akan memproduksi panas pada sejumlah otot atau muskulus. Selain itu juga terjadi eksitasi kimiawi untuk memproduksi panas, termasuk dengan dilepaskannya epinephrine, norepinehrine dan tiroksin. Pediatrik tidak mempunyai kemampuan untuk merespon secara efektif terhadap kedinginan melalui jalur fisiologi ini.

Mencegah terjadinya inadvertance hipotermia adalah lebih baik dari pada mencoba menghangatkan pasien manakala terjadi hipotermia. Menghangatkan kembali tidak akan efektif kecuali lebih dari 65% seluruh permukaan tubuh kontak dengan sumber panas eksternal. Pencegahan terhadap hipotermia dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : mengendalikan atau mengatur suhu lingkungan. Usahakan OR di sekitar suhu 75 oF atau 23,89 oC. Kedua, selimuti pasien pediatrik dengan plastik atau selimut hangat. Ketiga bisa menggunakan larutan penghangat kulit, hindari penggunaan alkohol. Hangat cairan terapi cairan. Gunakan selimut air panas (circulating hot water). Usahakan pasien pediatrik dalam keadaan tetap kering.

Selain itu ada juga beberapa cara untuk memperoleh sumber panas eksternal. Namun tidak dianjurkan karena berpotensi menyebabkan thermal injury atau electrocution. Radiant heater atau heat lamp tidak mudah digunakan sebagai sumber panas dan berpotensi menyebabkan terbakar bila terkena kulit. Electric heating pada atau electric heating board menyebabkan hot spot atau basah dan mengakibatkan hubungan pendek (electrocution, nyetrum). Botol air panas dapat digunakan asal suhunya tidak lebih dari 107 oF atau 41,667 oC dan segera diambil bila sudah dingin.

Entry Filed under: pediatrik. Tag: , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blogroll

dokter hewan

Meta

Tag

animal stress anjing diare disease disphagia dokter hewan dokter hewan praktek domba garut emergency foot and mouth disease gagal ginjal handling hewan kesayangan hipotermia idul fitri joke kebiri dini kucing kulit mata meat neonatus nutrition pediatrik veteriner pertolongan pertama politics Rabies rambut regurgitasi rodensia ruminansia sapi madura seizure small animal soal ujian kompetensi teknologi informasi ternak toksoplasma trematoda ayam uremia veterinary veteriner vitamin vomit zoonosis

Tulisan teratas

Komentar terakhir

triakoso di Sumpah Dokter Hewan
triakoso di Golongan darah pada kucin…
edna di Golongan darah pada kucin…
Sigit Prayogo KH'06 di Perbedaan regurgitasi dan vomi…
triakoso di Perlukah Fakultas Kedokteran H…

Klik tertinggi

Blog Stats

Halaman

Arsip