Posts filed under ‘ternak’

Gambaran kasus Left Displace Abomasum melalui endoskopi

Gambaran kasus Left Displace Abomasum dapat diketahui juga melalui pemeriksaan endoskopi untuk mengetahui kondisi dan perubahan posisi abomasum serta organ-organ yang lain dapat dievaluasi menggunakan endoskopi. Berikut ini adalah gambaran endoksopi pada kasus LDA.

Mei 14, 2011 at 3:18 am 2 komentar

Boyolali KLB Antraks

Pemkab Boyolali, Jawa Tengah, menyatakan daerahnya sebagai daerah dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) Antraks karena telah ada suspect penularan antraks dari hewan kepada manusia. Pemkab akan berusaha maksimal menekan penyebarluasan kuman ini. Sementara itu, Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Boyolali menegaskan akan melakukan vaksinasi terhadap seluruh sapi di Dukuh Tangkilan, Desa Karangmojo, Senin (21/2/11) besok. Kepala Dinas Peternakan Boyolali, Dwi Priyatmoko, mengatakan vaksinasi terhadap seluruh hewan di Tangkisan itu merupakan langkah pencegahan agar tidak menular ke hewan lainnya.  Catatan Dinas Kesehatan Pemkab Boyolali, kasus wabah penyakit antraks pada manusia juga pernah terjadi di Boyolali pada tahun 1992. Saat itu wabah antraks menyerang Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali. Pada kejadian itu tercatat 25 orang dinyatakan positif terjangkit antraks, 18 orang diantaranya meninggal.

Penyakit Antraks disebabkan bakteri atau kuman Baccilus anthracis, bukan virus. Penyakit ini menular akut yang dapat menyerang pada semua hewan berdarah panas. Penyakit ini juga bersifat zoonosis, artinya bisa menular dari hewan ke manusia. Kuman penyebab antraks ini dapat membentuk spora sehingga tahan hidup di dalam tanah selama bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun. Oleh sebab itu pada daerah enzootik atau endemik kasus antraks seperti Boyolali, maka setiap hewan yang mati karena diduga menderita antraks dilarang dibedah bangkai, apalagi dipotong kemudian dagingnya dimakan. Semua karkas dari hewan yang mati karena antraks atau yang dicurigai antraks harus dikubur sedalam 2 meter dilapisi penutup gamping (kapur) dan daerah tersebut dipagar. Semua material terinfeksi harus dibakar dan semua hewan rentan dijauhkan dari daerah terinfeksi.

Sebelum ini juga diketahui terjadi kasus antraks di desa Ketro kecamatan Tanon kabupaten Sragen Jawa Tengah. Kronologi terjadinya kasus ini dari informasi kematian mendadak pada kambing dan sapi. Selanjutnya diketahui sebanyak 16 ekor sapi dan 26 ekor kambing mati. Sebagian besar kambing dan sapi tersebut dipotong paksa dan “dibruncah”, istilah setempat yaitu dijual murah atau diobral serta dikonsumsi warga sekitar. Hanya beberapa ekor saja yang dipotong paksa dan dikubur.  Sebagian besar jerohan sapi yang dipotong paksa dibuang begitu saja di saluran air dan akhirnya menuju waduk Ketro. Dikuatirkan waduk Ketro dan sekitar akan menjadi tempat subur berkembangnya kuman Baccilus anthracis penyebab penyakit antraks ini.

Pada daerah enzootik dan sekitarnya, kasus antraks ini tidak lagi mengejutkan dan bukan merupakan aib bagi siapapun. Terutama bagi pemerintah daerah setempat, sehingga tidak perlu lagi berusaha menutupi kasus yang terjadi di daerahnya. Namun justru menuntut semua pihak agar lebih waspada, berhati-hati dan mengikuti norma yang berlaku agar antraks yang bisa menyerang hewan dan juga manusia ini bisa segera diatasi, tidak bertahan lebih lama dan tidak memakan korban semakin banyak.

Februari 21, 2011 at 6:46 am Tinggalkan Komentar

Pengamatan Kesehatan Hewan pada Ternak Kurban

Tinggal beberapa hari ke depan kita akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Hari Raya Idul Adha identik juga dengan Hari Raya Kurban. Pada hari tersebut akan disembelih hewan-hewan kurban. Saat ini, telah banyak penjual ternak kurban di berbagai tempat. Ada persyaratan yang harus dipehuni sehingga ternak kurban layak untuk dijadikan hewan kurban, antara lain hewan atau ternak sudah cukup umur, tidak cacat dan harus sehat.
(lagi…)

November 19, 2009 at 3:07 am 3 komentar

Sistem digesti anakan ruminansia

Seperti kita tahu, ruminansia atau hewan pemamah biak mempunyai lambung majemuk. Hal ini berarti lambung ruminansia lebih dari satu buah, yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Pada ruminansia dewasa, rumen adalah bagian lambung yang paling besar. Di antara lambung-lambung tersebut lambung sejatinya adalah abomasum, di mana dalam abomasum terjadi proses pencernaan sebagaimana lambung monogastrik lain, karena abomasum menghasilkan cairan lambung (gastric juice).
Pertanyaannya, apakah anak ruminanisa dilahirkan dalam kondisi pencernaan sebagaimana ruminansia dewasa. Tidak.
(lagi…)

Oktober 29, 2008 at 1:45 am 3 komentar

Mengatasi hipotermia pada anak ruminansia kecil

Kondisi lingkungan di dalam kandungan atau uterus sangat berbeda dengan lingkungan di luar uterus. Di dalam uterus janin (fetus) memperoleh segala yang diperlukan yang semua itu difasilitasi oleh induknya. Oksigen dan nutrisi tersedia cukup dari induk melalui pertukaran zat di plasenta. Suhu tubuh tentu saja sudah diatur sehingga suhu lingkungan janin optimal yang diperoleh dari induknya. Lingkungan pertumbuhannya steril dan terjaga dari segala sumber infeksi.
(lagi…)

Oktober 20, 2008 at 5:19 am Tinggalkan Komentar

Domba Garut

Domba Garut adalah domba hasil persilangan beberapa bangsa domba sehingga menjadi bangsa domba tersendiri dengan tampilan fisik yang khas. Domba Garut adalah plasma nutfah yang unik dan asli Indonesia yang berkembang di daerah Priangan atau Garut sehingga dikenal dengan nama Domba Garut. Tulisan ini juga diharapkan menjadi pendorong bahwa Domba Garut sebagai plasma nutfah Indonesia tersebut harus dilindungi dan menjadi lestari serta tidak diakui atau diklaim oleh pihak-pihak lain, selain karena Domba Garut sendiri yang mengalami perkembangan proses perkawinan ataupun dalam upaya upgrading untuk tujuan yang lain seperti produksi daging sehingga dikuatirkan akan menjauhkan dari ciri-ciri Domba Garut itu sendiri. Untuk itu sebaiknya juga dibuat standarisasi karakteristik Domba Garut.
(lagi…)

September 25, 2008 at 3:11 am 4 komentar

Sapi Madura

Sapi Madura adalah salah satu sapi asli Indonesia. Sapi Madura berasal dari pulau madura dan pulau-pulau di sekitarnya. Pulau Sapudi sangat dikenal sebagai tempat sapi Madura berkembang pesat. Sapi Madura merupakan persilangan Bos sondaicus dengan Bos indicus. Ciri-ciri punuk diperoleh dari Bos indicus sedangkan warna diwarisi dari Bos sondaicus. Namun penelitian Popescu dan Smith (1998) menunjukkan bahwa pola karyotipik sapi Madura menunjukkan adanya kemiripan dengan Bos taurus, kecuali pada kromosom Y-nya yang mirip dengan Bos indicus. Sehingga Popescu dan Smith menyimpulkan sapi Madura merupakan hasil perkawinan silang antara indukan Bos taurus atau Bos javanicus dengan pejantan Bos indicus.

(lagi…)

September 10, 2008 at 4:19 am 6 komentar


Klik tertinggi

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 50,727 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.