Posts tagged ‘pediatrik veteriner’
Ternyata Anjing Juga Perlu Gosok Gigi
Kejadian problema gigi pada hewan kesayangan sebetulnya sangat tinggi. hanya karena tidak menimbulkan gejala yang sangat serius, problema ini seringkali diabaikan oleh pemilik hewan. Baru bila menimbulkan masalah seperti tidak mau makan, mulutnya bau, radang pada rongga mulut dan sebagainya, baru pemilik memeriksakan hewan kesayangannya pada dokter hewan. Biasanya setelah diperiksa problem utamanya adalah gigi, terutama adanya karang gigi. Jalan keluarnya biasanya dilakukan scaling dan root planning. Namun bila problemnya sudah parah, tidak hanya sekedar scaling dan root planning namun juga ekstraksi gigi. Karena begitu giginya bersih dari karang gigi, gigi tersebut tidak punya tempat berpijak, goyang dan tanpa upaya yang keras pun sudah tanggal.
Bagaimanapun langkah pencegahan tetap lebih baik dari pada pengobatan. Yaitu mencegah agar tidak terjadi penumpukan karang gigi. Pencegahan yang dilakukan bisa bermacam-macam, mulai dari memilih bentuk pakan hewan kesayangan sampai melakukan sikat gigi atau menggosok gigi. Penyikatan gigi agar tidak terjadi penumpukan karang gigi sangat efektif untuk mencegah terjadinya penumpukan karang gigi. Tentu sja gosok gigi dilakukan oleh pemilik gigi, karena anjing tidak bisa melakukan gosok gigi sendiri. Namun membuat hewan kesayangan mau disikat giginya tidak mudah. Oleh sebab itu membiasakan menggosok gigi sejak dini pada anjing sangat penting. Selain itu tentu saja harus menyikat atau menggosok gigi dengan benar.
Beriktu ini adalah clip langkah menggosok gigi pada anakan anjing agar terbiasa giginya digosok untuk mencegah terjadinya penumpukan karang gigi.
Termoregulasi pada neonatus
Perubahan kondisi terjadi pada neonatus yang baru lahir. Di dalam tubuh induknya, suhu tubuh fetus selalu terjaga, begitu lahir maka hubungan dengan induk sudah terputus dan neonatus harus mempertahankan suhu tubuhnya sendiri melalui aktifitas metabolismenya.
(lagi…)
Kekebalan pada neonatus
Begitu lahir, anak anjing atau anak kucing akan berhadapan dengan lingkungan yang tidak lagi steril sebagaimana selama ini mereka hidup yaitu di dalam uterus. Adanya bakteri di dalam saluran pencernaan dan organ-organ lain sudah mulai terjadi dalam waktu 24 jam setelah lahir. Anak anjing atau kucing selanjutnya akan terpapar oleh bakteri, terutama bakteri yang ada sebagai “mikroflora alami”. Secara klinis, mikroflora alami ataupun bakteri yang lain dapat menyebabkan infeksi dan mengancam kelangsungan hidup neonatus.
(lagi…)
Pentingnya kolostrum bagi neonatus
Kolostrum dikenal juga dengan sebutan beestings, first milk atau immune milk. Kandungan kolostrum ini sangat berbeda dengan susu (biasa). Kandungan kolostrum juga berbeda pada spesies hewan yang berbeda.
Anak ruminansia atau pemamah biak lahir dalam keadaan tidak mempunyai kekebalan. Sebetulnya hal ini disebabkan dari tipe plasentasi hewan tersebut, sehingga menyebabkan materi-materi kekebalan tidak bisa ditransfer oleh induk ke dalam tubuh janin via plasenta. Dalam kondisi yang demikian, Tuhan menciptakan jalur lain transfer kekebalan dari induk ke anak adalah melalui kolostrum. Itu sebabnya materi-materi kekebalan yang hendak diberikan kepada anak disiapkan seluruhnya di dalam kolostrum.
(lagi…)
Sistem digesti anakan ruminansia
Seperti kita tahu, ruminansia atau hewan pemamah biak mempunyai lambung majemuk. Hal ini berarti lambung ruminansia lebih dari satu buah, yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Pada ruminansia dewasa, rumen adalah bagian lambung yang paling besar. Di antara lambung-lambung tersebut lambung sejatinya adalah abomasum, di mana dalam abomasum terjadi proses pencernaan sebagaimana lambung monogastrik lain, karena abomasum menghasilkan cairan lambung (gastric juice).
Pertanyaannya, apakah anak ruminanisa dilahirkan dalam kondisi pencernaan sebagaimana ruminansia dewasa. Tidak.
(lagi…)
Mengatasi hipotermia pada anak ruminansia kecil
Kondisi lingkungan di dalam kandungan atau uterus sangat berbeda dengan lingkungan di luar uterus. Di dalam uterus janin (fetus) memperoleh segala yang diperlukan yang semua itu difasilitasi oleh induknya. Oksigen dan nutrisi tersedia cukup dari induk melalui pertukaran zat di plasenta. Suhu tubuh tentu saja sudah diatur sehingga suhu lingkungan janin optimal yang diperoleh dari induknya. Lingkungan pertumbuhannya steril dan terjaga dari segala sumber infeksi.
(lagi…)
Domba Garut
Domba Garut adalah domba hasil persilangan beberapa bangsa domba sehingga menjadi bangsa domba tersendiri dengan tampilan fisik yang khas. Domba Garut adalah plasma nutfah yang unik dan asli Indonesia yang berkembang di daerah Priangan atau Garut sehingga dikenal dengan nama Domba Garut. Tulisan ini juga diharapkan menjadi pendorong bahwa Domba Garut sebagai plasma nutfah Indonesia tersebut harus dilindungi dan menjadi lestari serta tidak diakui atau diklaim oleh pihak-pihak lain, selain karena Domba Garut sendiri yang mengalami perkembangan proses perkawinan ataupun dalam upaya upgrading untuk tujuan yang lain seperti produksi daging sehingga dikuatirkan akan menjauhkan dari ciri-ciri Domba Garut itu sendiri. Untuk itu sebaiknya juga dibuat standarisasi karakteristik Domba Garut.
(lagi…)
Pemeriksaan dermatologi pada pediatrik
Tiga tahapan penting dalam melakukan diagnosis pada kasus dermatologi pada pediatrik, yaitu menentukan pola lesi, menentukan diferensial diagnosis dan menetapkan diagnosis yang tepat. Menetapkan diagnosis pada kasus dermatologi pediatrik tidak berbeda dengan melakukan diagnosis pada hewan dewasa. Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan lesi primer atau sekunder pada pasien sebelum melakukan pemeriksaan lain lebih lanjut.
Lesi
Lesi primer : Makula, patch, papula, plak, pustula, vesikula, bulae, wheal, nodula, tumor, dan siste. Lesi sekunder : Ekskoriasi, abrasi, erosi, ulserasi, fisura, likensifikasi, kalus. Lesi yang bisa primer ataupun sekunder adalah : alopesia, scale krusta, folikuler cast, komedo, pigmentasi abnormal.
Setelah itu kita dapat menentukan pola lesi setidaknya dalam 8 kategori yaitu :
- Pigmentary dermatosis
- Vesiculo-pustular dermatosis
- Papulo-nodular dermatosis
- Alopecia dermatosis
- Erosive-ulcerative dermatosis
- Exfoliate dermatosis
- Indurate dermatosis
- Maculo-papular dermatosis
Penyebab penyakit yang paling sering pada pediatrik
Ektoparasit. Penyakit kulit yang disebabkan ektopatrasit paling sering ditemukan pada neonatus atau anjing dan kucing muda. Yang paling umum ditemukan adalah demodecosis, otodectes, scabies, cheyletiellosis, caplak.
Diketahui beberapa breed anjing mempunyai masalah imunitas yaitu Shar pei, English bulldog, Scottish terrier, Great dane. Demodecosis pada anjing bersifat lokal atau general. Gejala demodekosis lokal biasanya ringan, jarang disertai pyoderma dan pruritus, dan umumnya akan sembuh spontan sebelum berumur 8 minggu. Penggunaan acarisida tidak cukup perlu untuk mengatasi penyakit ini. Demodekosis general atau sistemik meruapakan penyakit kulit yang berat dan menyebabkan frustasi karena sulit disembuhkan. Prognosis sangat bergantung pada luas dan keparahan lesi dan perawatan yang dilakukan. Dahulu euthanasia selalu menjadi pilihan karena sulitnya mengatasi penyakit ini, namun saat ini 90% bisa diatasi. Kedua penyakit ini baik demodekosis lokal maupun general bermula pada saat neonatus. Diagnosis didasarkan scraping kulit dan histopatologi. Terapi harus mempertimbangkan kondisi imunosupresif dan keparahan akibat obat. Komplikasi seringkali akibat infeksi sekunder sehingga membutuhkan pemberian antibiotika selama beberapa minggu selain acarisida. Penggunaan ivermectin dan acarisida seperti amitraz sangat membantu mengatasi penyakit ini.
Infeksi bakterial pada kulit umum ditemukan pada neonatus ataupun anjing atau kucing muda. Impetigo dan superficial bacterial folliculitis adalah penyebab paling umum dari superficial pyoderma pada pediatrik.
Impetigo ditandai pustula subkorneal pada daerah yang tidak berambut. Kondisi ini tidak menular dan berlangsung sebelum pubertas. Umumnya tidak disertai rasa gatal atau pruritus. Penyebabnya bisa karena parasit, infeksi virus, lingkungan yang kotor, penyakit yang berkaitan dengan kekebalan tubuh, ataupun karena kekurangan nutrisi. Penyakit ini dapat sembuh spontan, namun kadangkala diperlukan terapi untuk mencegah kondisi yang semakin parah. Topikal terapi cukup untuk mengatasi penyakit ini.
Superficial bacterial folliculitis adalah infeksi yang terbatas hanya pada area superfisial folikel rambut. Penyebab yang paling sering adalah Staphylococcus intermedius, meski bakteri yang lain juga dapat menyebab penyakit ini. Penyakit ini timbul akibat trauma lokal, goresan, seborrhea, demodecosis, faktor hormonal, iritasi lokal atau alergi. Tiga penyebab yang paling sering adalah Staphylococus intermedious, Dermatophyte, Demodex canis. Lesi alopesia multifokal dan papularpustular adalah gejala khas pada ketiga penuebab penyakit ini.
Otodetes juga merupakan penyakit yang palig sering terjadi pada pediatrik. Otodectes hidup pada permukaan debris di kanal telinga atau permukaan kulit dan dapat memicu pruritus yang asimptomatis. Diagnosis dapat menggunakan otoskop atau memeriksa eksudat menggunakan mikroskop. Pemberian terapi sebaiknya meliputi seluruh permukaan kulit, karena meski Otodectes hidup di kanal telinga namun seringkali juga berkelana ke permukaan kulit jauh dari telinga. Terapi harus diteruskan hingga 4 minggu, karena umur hidup tungau ini 3 minggu.
Infestasi pinjal. Pinjal atau (fleas) yang menyebabkan fleas bite dermatitis jarang ditemukan pada pediatrik. Namun demikian serangan pinjal dapat menggangu kesehatan secara umum. Pinjal dapat menjadi perantara penyakit lain seperti Pasteurella sp, Bartonella sp., cacing pita, tularemia dan lain-lain Pada pediatrik, anemia dapat terjadi akibat serangan pinjal yang parah. Pemberantasan pinjal pada pediatrik juga harus hati-hati karena efek samping insektisida yang digunakan.
Alergi. Penyakit alergi dermatitis yang sering terjadi pada neonatus atau anjing dan kucing muda adalah atopic dermatitis serta cutaneous adverse food reaction. Predisposisi penyakit ini biasanya bersifat genetik. Penyakit ini berkaitan dengan IgE terhadap alergen lingkungan seperti tungau debu, serbuk bunga, spora, insekta dan alergen lain-lain. Penyakit ini juga sering terjadi pada anjing dewasa, diperkirakan sebesar 10-15% anjing menderita atopic dermatitis. Dokter hewan harus curiga terhadap penyakit ini bila menemukan gejala-gejala seperti pruritus, bacterial folliculitis, Malassezia dermatitis, otitis eksterna. Ada tiga hal yang harus menjadi pertimbangan untuk mendiagnosis atopic dermatitis, yaitu
- Sejarah atau anamnesis
- Pemeriksaan fisik, ditemukan gejala-gejala yang mengarah
- Diferensial diagnosis, sudah telah dilakukan ”rule out” terhadap penyakit-penyakit lain yang mirip dengan atopic dermatitis.
- Selain itu bial diperlukan, adalah melakukan skin test bukan serum allergy test untuk mengetahui sumber alergennya.
Pruritus biasanya menjadi gejala utama pada penderita atopic dermatitis. Daerah-daerah gatal yang ditemukan dapat dijadikan langkah untuk mengarahkan dugaan kuat terjadinya atopic dermatitis. Penderita atopic dermatitis biasanya merasa gatal pada daerah wajah, area periocular, pipi dan muzzle. Selain itu pada telinga termasuk otitis eksterna. Bagian bawah tubuh atau ventrum seperti leher, aksila, abdomen dan inguinal. Ekstrimitas belakang, karpal dan tarsal, digital dan bagian antara digital. Bagian tubuh lain yang berkaitan dengan atopic dermatitis adalah perineum,
Gejala awal biasanya bermula sejak 6 bulan. Beberapa penyakit yang mengikuti atopic dermatitis biasanya adalah Staphyllococcal pyoderma, Malassezia dermatitis dan otitis eksterna (lebih dari 86% dari penderita atopic dermatitis). Sekitar 10% penderita atopic dermatitis juga mempunyai masalah dengan food adverse reaction.
Gambaran klinis yang dapat dijadikan pedoman menduga terjadinya food adverse eaction adalah :
- Umur. Biasanya terjadi pada umur yang sangat muda yaitu kurang dari 7 bulan atau pada umur yang sangat tua biasanya lebih dari 7 tahun.
- Pada mulanya terjadi pruritus yang sangat.
- Sama sekali tidak ada respon terhadap pemberian glukokortikoid.
- Ada kaitannya dengan gejala-gejala sistem pencernaan.
Upaya utama melakukan terapi adalah menghilangkan penyebabnya kemudian memberikan obat-obatan yang dapat mengurangi gejala inflamasi seperti pemberian antihistamin, pemberian asam lemak esensial, anti inflamasi topikal. Namun bila langkah tersebut masih belum memberikan respon yang baik maka dapat menggunakan glukortokoid dan cyclosporin. Namun penggunaan kedua obat tersebut harus dengan pertimbangan yang matang pada neonatus karena efek sampingnya.
Infeksi fungi. Mikosis superfisialis sering terjadi pada neonatus atau anjing dan kucing anakan. Diantara sekian banyak penyebab penyakit mikosis superfisialis adalah dermatophytosis. Organisme penyebab penyakit ini antara lain adalah Microsporum sp., Trychophyton sp., Epidermophyton sp, namun yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab pada anjing muda adalah Microsporum sp. Penyakit ini bersifat zoonosis. Anjing yang mempunyai kekebalan tubuh yang baik biasanya tidak mudah terserang penyakit ini. Neonatus rentan terhadap penyakit ini diduga karena sistem kekebalannya masih belum berkembang. Manisfestasi klinis dermatophytosis pada anjing muda adalah alopesia fokal atau multifokal. Diagnosis biasanya membutuhkan peneguhan menggunakan kultur media agar dextrosa Saboureaud atau memakai dermatophyte test medium (DTM). Terapi pada kasus ini harus membuang fungi dari kulit atau rambut penderita, selain itu perlu melakukan desinfeksi lingkungan, meminimalkan kontak dengan hewan lain ataupun orang serta mencegah kontaminasi ulang dari lingkungannya. Terapi topikal cukup efektif menggunakan elinconazol atau miconazol. Sedangkan bila diperlukan menggunakan obat antifungal sistemik dapat memakai griseofulvin 25-50 mg/kgB dengan interval 12 jam, itraconazole 10-20 mg/kgBB dengan interval 24 jam atau ketoconazol 10 mg/kgBB dengan interval 12-24 jam. Desinfeksi lingkungan dapat menggunakan larutan lime sulfur 1:30 atau cairan pemutih 1:10 atau enilconazol 20 μl/ml.
Beberapa fakta kebiri dini berdasarkan riset
Saat ini klien mempunyai pilihan lain untuk mengambil keputusan melakukan kebiri pada hewan kesayangannya, yaitu melakukan kebiri dini. Kebiri dini dilakukan sebelum seekor hewan mencapai dewasa kelamin. Dan memang beberapa tahun yang lalu dan barangkali hingga saat ini masih ada pandangan yang tidak mendukung dilakukannya kebiri dini pada hewan kesayangan.
(lagi…)
Keuntungan dan kerugian kebiri dini dalam jangka panjang
Pada mulanya istilah kebiri adalah pemandulan pada hewan jantan, begitu saya yakin yang ada di benak anda saat anda mendengar istilah tersebut. Namun saya ingin mengistilahkan kebiri juga adalah langkah pemandulan pada hewan betina. Hal ini karena tidak ada istilah yang pas untuk menyebutkan hal tersebut pada hewan jantan dan betina. Dalam istilah kedokteran hewan, kastrasi adalah kebiri pada hewan jantan yaitu pengambilan organ kelamin jantan. Organ kelamin yang biasanya diambil adalah testis. Sedangkan sterilisasi adalah istilah kebiri pada hewan betina yaitu pengambilan organ kelamin betina. Organ kelamin betina yang biasanya diambil adalah ovarium dan uterus.
Saat ini di Amerika telah disetujui dilakukannya kebiri pada umur dini. Kebiri umur dini ini dilakukan sebelum hewan mengalami dewasa kelamin, yaitu sejak umur 6 minggu hingga kira-kira 5 bulan. Selain kebiri yang umum dilakukan, yaitu pada hewan yang telah dewasa kelamin namun sebelum berumur setahun. Para pecinta anjing atau kucing seringkali bertanya untuk apa sebetulnya kebiri dilakukan, khususnya alasan kesehatan, untuk kemudian mengambil keputusan perlu tidaknya hewan kesayangannya dikebiri. Apa sebetulnya keuntungan melakukan kebiri dan apa pula kerugiannya.
(lagi…)
Komentar terakhir