Posts tagged ‘veterinary’

Statistics for Veterinary and Animal Science, Second Edition


veterinary statisticBuku ini bagus untuk dibaca serta mudah dipahami bagi mahasiswa kedokteran hewan maupun praktisi yang melakukan penelitian dalam menganalisa data-data. Penyajian menarik disertai contoh-contoh penelitian sehingga lebih mempermudah pemahaman.

Download

Download 1

Agustus 24, 2013 at 11:01 am Tinggalkan komentar

Veterinarian and doctor


A veterinarian was feeling ill and went to see her doctor. The doctor asked her all the usual questions, about symptoms, how long had they been occurring, etc., when she interrupted him: “Hey look, I’m a vet. I don’t need to ask my patients these kind of questions: I can tell what’s wrong just by looking. Why can’t you?”

The doctor nodded, looked her up and down, wrote out a prescription, and handed it to her and said, “There you are. Of course, if that doesn’t work, we’ll have to have you put down.”

Desember 20, 2008 at 2:04 am Tinggalkan komentar

Veterinary Medicine: Future Challenges and Directions


Center for Veterinary Medicine, Food and Drug Administration, Rockville, MD, USA.
The 2005 environment presents new challenges and opportunities for the animal pharmaceutical industry. The current regulatory and economic environment is not for the meek or tender-hearted. It requires bold new perspectives from both the pharmaceutical industry and academia to address the therapeutic and production needs of animals.
With the implementation of ADUFA, a new window of opportunity exists to reinvest in significant research and development of novel therapies and production solutions. The research and candidate selection for development has to be extremely focused and discriminating to meet the needs. The pharmaceutical companies who will be the leaders of the future are the ones who abandon current traditional business objectives and venture into new arenas.
For the last forty years, the animal pharmaceutical industry has largely relied on the sales of antibacterial and anthelmintic products as the major portion of their product portfolios. Individual firms in the food animal pharmaceutical business had one or two flagship antimicrobials for treating bovine respiratory disease, swine respiratory disease, and for the reduction of poultry mortality. To a lesser extent firms carried antimicrobials for companion animal diseases. In addition, sponsors’ portfolios contained anthelmintic molecules and a smattering of anticoccidials, intramammary and other products. Many company portfolios contained production drugs, both hormonal and non-hormonal, for weight gain and feed efficiency and predominantly indicated for cattle. On the companion animal side, firms had a few key antimicrobials, anthelmintics, heart worm preventatives and flea control products.
(lebih…)

November 26, 2008 at 4:17 am 1 komentar

Soal Ujian Kompetensi


Ada fenomena yang menarik, bila melihat perkembangan dunia praktek, dokter hewan praktek di Indonesia, khususnya praktek hewan kesayangan. Pada tahun 90-an, para lulusan dokter hewan tidak banyak yang melirik dan menekuni dunia praktek. Baru pada akhir 90-an, karena krisis ekonomi dan mengakibatkan banyak perusahaan juga mengalami kesulitan keuangan sehingga rekrutmen pegawai baru juga menjadi sangat dibatasi atau dipertimbangkan. Selain yang sudah bekerja dipaksa dengan tuntutan pekerjaan yang pada akhirnya membuat banyak pegawai keluar atau dikeluarkan dari pekerjaan. Akibatnya adalah para dokter hewan ini akhirnya mengambil langkah atau mengambil keputusan untuk “kembali ke kandang”, kembali pada habitatnya semula yaitu sebagai “dokter”. Sehingga mulai tahun tersebut mulai banyak dokter hewan yang baru lulus berusaha menjadi “dokter” alias praktek dokter hewan. Dan sejak itu pula, dunia praktisi mulai maju pesat dan berkembang.
(lebih…)

Oktober 31, 2008 at 1:00 am Tinggalkan komentar

Veterinary Joke


At about 2:00 in the morning, the phone rang. “Is this the vet?” asked an elderly lady’s voice.
“Yes, it is”, replied the vet, “Is this an emergency?”
“Well, sort of”, said the elderly lady, “there’s a whole bunch of cats on the roof outside making a terrible noise mating and I can’t get to sleep. What can I do about it?”
There was a sharp intake of breath from the vet, who then patiently replied “Open the window and tell them they’re wanted on the phone”
“Really?” said the elderly lady, “Will that will that stop them?”
“Should do,” said the vet, “- IT STOPPED ME!”

Oktober 7, 2008 at 5:58 am Tinggalkan komentar

Apa kabar Dokter Hewan?


Tahukah anda bahwa dokter hewan adalah salah satu profesi yang paling tua di dunia? Namun masih belum banyak orang mengetahui apa itu dokter hewan, apa peran dokter hewan selama ini. Tidak banyak yang tahu bagaimana dokter hewan menjaga kesehatan masyarakat melalui kesehatan hewan, tidak banyak yang tahu bagaimana dokter hewan berusaha melestarikan plasma nutfah, tidak banyak yang tahu bagaimana dokter hewan menjaga agar hewan tidak diperlakukan semena-mena, tidak banyak yang tahu bagaimana dokter hewan menjaga kesehatan semua hewan di dunia.

World Veterinary Day adalah bentuk penghargaan atas peran Dokter Hewan di dunia. World Veterinary Day dirayakan setiap hati Sabtu terkahir bulan April. Tahun 2008 ini WVD jatuh pada tanggal 26 April, dengan tema Celebrate Our Diversity.

(lebih…)

April 29, 2008 at 5:46 am 7 komentar

Satire Dokter Hewan


Berikut ini adalah tulisan sejawat Drh Tata Naipospos. Sangat bagus untuk kita renungkan bersama.

Teman-teman Sejawat,

Saya sertakan tulisan saya dibawah ini dalam rangka menjelang perjuangan Teman-teman Sejawat PDHI untuk terus menggolkan Undang-undang Veteriner sebagai “lex spesialis” di DPR RI.

“SALUT” untuk Teman Sejawat Soehadji, Mangku Sitepoe, Wiwiek Bagja, Olan Sebastian, Soedjasmiran dan semua Teman Sejawat lainnya yang berkeinginan meningkatkan profesi Dokter Hewan di Republik tercinta.

Salam,

Tata Naipospos

Satire Dokter Hewan Indonesia

Dokter hewan barangkali tidak populer, tetapi bukan berarti tidak diperlukan. Lebih populer barangkali anekdot tentang dokter hewan, yang katanya lebih pintar dari dokter karena bisa mendiagnosa penyakit tanpa pernah bicara sekalipun dengan pasiennya.

Untuk mengiyakan bahwa sebagian dokter-dokter hewan di negeri ini merasa dikucilkan dalam penanggulangan flu burung – seperti pernah dilansir dalam salah satu pemberitaan media – rasanya juga tidak terlalu persis seperti itu. Sejak zaman penjajahan Belanda dokter hewan sudah ada, namun masyarakat Indonesia mungkin kurang memahami peran dokter hewan – yang sama halnya dengan dokter – mempunyai kewajiban untuk menyejahterakan dan menyehatkan manusia. Hanya dalam hal ini dokter hewan melakukannya melalui upaya penyehatan hewan dan lingkungannya, keamanan produk hewan dan pencegahan penyakit-penyakit yang bersumber hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis).

Dokter hewan dalam bahasa Inggris disebut ’veterinarian’. Bidang yang ditangani dokter hewan disebut veteriner. Veteriner merupakan saduran dari kata dalam bahasa Belanda ’veterinair’ yang diartikan sebagai bidang yang berkaitan dengan hewan dan penyakit-penyakitny a.

Semestinya yang perlu dikemukakan dari profesi ini adalah bagaimana masyarakat dapat diberi pemahaman yang benar dan utuh mengenai tugas dan tanggung jawab dokter hewan. Perannya yang sangat strategis dalam ketahanan pangan dan gizi, terutama dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani melalui upaya penjaminan kesehatan hewan dan keamanan daging, susu dan telur. Bahkan kontribusinya yang signifikan dalam turut mempertahankan keamanan negara, ekonomi nasional dan penyelamatan jiwa manusia melalui upaya penolakan penyakit hewan menular yang terbawa melalui importasi hewan hidup dan produk hewan.

Dokter hewan bertanggung jawab terhadap berbagai kegiatan yang terkait dengan kesehatan manusia secara individuil maupun populasi. Pada tingkat individuil, yang harus ditangani adalah penyakit-penyakit yang ditularkan ke orang yang hidup atau yang bekerja dengan hewan. Mengingat pekerjaannya, seseorang memiliki risiko tertular penyakit hewan. Sedangkan pada tingkat populasi, yang harus ditangani adalah penyakit-penyakit yang ditularkan ke orang melalui pangan asal hewan (foodborne), yang ditularkan melalui air (waterborne), atau yang ditularkan melalui perantara (vectorborne).

Peran dokter hewan harus dikaitkan dengan perkembangan global saat ini, dengan munculnya berbagai wabah penyakit zoonosis. Data menunjukkan bahwa dari seluruh penyakit menjangkiti manusia yang muncul akhir-akhir ini, sekitar 60 persen bersumber dari hewan. Sebut saja anthraks, rabies, flu burung, sapi gila, SARS, HIV, Nipah dan masih banyak lagi. Hampir di seluruh negara, peran dokter hewan menjadi simpul kritis, terutama bila dikaitkan dengan bagaimana keberhasilan suatu negara dalam mengatasi kemunculan wabah zoonosis tersebut.

Begitu juga peran dokter hewan yang sangat penting bagi ketahanan nasional dan pertahanan negara adalah melindungi wilayah Republik Indonesia dari ancaman bioterorisme yang sebagian besar bersumber dari agen penyakit hewan dan invasi spesies asing. Penguasaan teknologi oleh dokter hewan mengenai sifat-sifat alamiah agen penyakit hewan seperti misalnya Bacillus anthracis perlu diperhitungkan dalam setiap indikasi keterlibatan agen penyakit hewan sebagai senjata biologis yang dapat mengancam kehidupan dan kesehatan manusia dan hewan yang bersifat massal.

Flu burung jadi momentum

Tak dapat dipungkiri, fakta terkini ’memaksa’ fenomena wabah flu burung beserta kompleksitasnya menjadi parameter baik buruknya peran dokter hewan dalam menjalankan tanggung jawabnya, mulai dari pengambilan kebijakan, penyampaian kebijakan ke daerah-daerah, sampai kepada pelaksanaan teknis operasional yang sesungguhnya di lapangan. Dalam lingkup yang lebih luas, kenyataannya peran tersebut tidak bisa dilepaskan begitu saja dari keterkaitannya bukan hanya pada pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat sebagai pengguna jasa, akan tetapi juga pada sistem dan peraturan yang ada.

Indonesia sebagai negara dengan kasus manusia yang meninggal akibat flu burung tertinggi di dunia dan daerah endemis pada unggas hampir menjangkiti seluruh wilayah, dinilai sangat buruk dalam cara-cara penanganan wabah flu burung pada unggas. Bukan suatu rahasia lagi, bahwa antara kebijakan yang ditetapkan dengan pelaksanaan di lapangan seringkali belum mampu memadamkan masalah. Pada dasarnya salah satu penyebabnya adalah kekurangberdayaan dokter hewan dalam memainkan perannya secara profesional dan sistematik dengan kewenangan dan legalitas yang jelas dan tegas.

Terlebih kalau tindakan tersebut bersifat darurat dan memerlukan kerjasama dari pemilik hewan dalam bentuk yang terkait hak kepemilikan (property right). Seperti halnya dalam tindakan memusnahkan unggas atau sejumlah besar unggas dalam kejadian wabah flu burung sebagai satu-satunya alternatif keputusan teknis yang harus diambil.

Pemusnahan unggas bukan dianggap sekedar kesukarelaan pemilik hewan, akan tetapi lebih kepada keputusan darurat yang dianggap perlu. Pertimbangan pemusnahan hanya bisa dilakukan oleh seorang dokter hewan berdasarkan kewenangan medik yang diembannya dan dijalankan sesuai dengan kaidah ilmu keprofesian yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun.

Dokter hewan jadi simpul kritis

Siapapun tidak bisa menyangkal bahwa keberadaan dokter hewan di negeri ini tidak memadai baik dari sisi jumlah orangnya maupun institusi pendidikannya, dibandingkan dengan jumlah satuan ternak yang harus dilayani. Jumlah dokter hewan di Indonesia yang saat ini bekerja di pemerintahan maupun swasta diperkirakan sekitar 12.000 orang. Dengan lima fakultas kedokteran hewan yang ada, maka cuma dihasilkan kurang lebih 250 – 400 lulusan dokter hewan setiap tahunnya. Dalam sepuluh tahun ke depan, kecepatan untuk menghasilkan lulusan tidak bisa menandingi kebutuhan dokter hewan.

Layaknya dokter yang punya kewenangan medik, maka seorang dokter hewanpun adalah profesi medik yang punya sumpah dan kode etik. Kaidah-kaidah keprofesian harus diberlakukan dengan tegas dan adil dalam setiap tindakan yang dilakukan. Bahkan sanksi harus diberikan apabila seorang dokter hewan ditetapkan telah melakukan perbuatan mala praktek seperti kesalahan diagnosa, kesalahan pengobatan, bahkan kelalaian mengambil tindakan darurat medik yang diperlukan.

Prinsip pengendalian wabah penyakit hewan menular tidak lain adalah instruksi atau kebijakan dari atas yang bersifat top-down dan memerlukan rantai komando (chain of command) ke bawah dengan mekanisme koordinasi terpusat. Sebuah pengendalian penyakit menular, tidak akan berjalan efektif karena tidak ditopang oleh sebuah payung hukum yang kuat. Dampaknya, kebijakan jadi setengah hati diaplikasikan di lapangan, karena dokter hewan tidak memiliki kekuatan legal dalam menjalankannya.

Penyakit flu burung bisa menulari berbagai jenis spesies hewan (multi host), sehingga langkah-langkah untuk mengatasinya jauh lebih kompleks daripada penyakit yang menulari satu spesies saja (single host species). Bahkan dalam kasus dimana unggas air atau satwa liar bertindak sebagai ‘reservoir’ virus flu burung, maka dapat menimbulkan konflik antara manusia dan hewan. Kaitan segitiga antara manusia, satwa liar dan hewan domestik mempunyai dampak yang melebar kepada isu-isu tentang kesehatan masyarakat, ekonomi peternakan, kesehatan lingkungan dan konservasi satwa liar.

Simpul kritis dalam penanggulangan memiliki benang merah ke berbagai bidang yang ‘memaksa’ kebutuhan untuk mempertajam spesialisasi dokter hewan, seperti ahli produksi unggas, ahli virulogi, ahli biomolekuler, ahli epidemiologi, ahli ekonomi veteriner, ahli satwa liar dan lain sebagainya. Dokter hewan harus mampu mengendalikan setiap simpul dengan berlandaskan kepada kemampuan analisis teknis dan profesionalismenya, sehingga beragregasi menjadi suatu kekuatan yang mampu secara progresif membuat perbaikan terhadap konsepsi dan strategi pengendalian penyakit.

Undang Undang Veteriner

Kompleksitas masalah zoonosis seperti halnya flu burung, rabies, anthrax yang kita alami saat ini menggambarkan mengapa perlu adanya penyatuan dan koordinasi upaya antara kesehatan (medicine), kesehatan hewan (veterinary medicine) dan kesehatan masyarakat (public health). Kemampuan penyakit menyebar melampaui batas wilayah dan batas antar spesies menuntut perlunya tanggung jawab medik dokter hewan untuk menentukan alternatif tindakan terbaik yang harus dilakukan.

Dalam setiap kejadian wabah penyakit zoonosis, dokter hewan harus mampu meletakkan tanggung jawab medik tertinggi pada perlindungan kehidupan dan kesehatan manusia diatas kepentingan ekonomi dan bisnis. Untuk melaksanakan tanggung jawab ini, sudah jelas tidak bisa dipertentangkan antara profesi dengan kedudukan seorang dokter hewan dalam suatu unit pekerjaan di pemerintahan maupun swasta. Sepanjang menyangkut penyakit yang wajib dilaporkan (notifiable diseases) menurut peraturan perundangan, maka dokter hewan berdasarkan sumpah dan kode etiknya tidak perlu khawatir kehilangan pekerjaan apabila melaporkan kejadian kasus flu burung kepada otoritas veteriner.

Keniscayaan memenuhi tanggung jawab medik tersebut sudah jelas memerlukan legalitas dalam satu kerangka hukum yang jelas dan tegas. Sebanding dengan tanggung jawab profesi dokter maupun dokter gigi yang dididik untuk membuat keputusan hanya berdasarkan kepada ‘kebenaran ilmiah’. Dibandingkan dengan sejawatnya dokter, bidang kedokteran sudah memiliki tiga buah peraturan perundangan yang mendukung penerapan tanggung jawab medik yaitu Undang Undang Kesehatan, Undang Undang Praktek Dokter dan Undang Undang Wabah Penyakit Menular.

Untuk itulah upaya bersama para dokter hewan yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) menyalurkan aspirasinya demi kepentingan negeri ini untuk memiliki sebuah Undang Undang Veteriner. Upaya yang harus dipandang bukan hanya sekedar keinginan mengangkat harkat dokter hewan semata, akan tetapi lebih kepada mereposisi peran dan wewenang dokter hewan secara tepat dan proporsional sesuai dengan tanggung jawab medik yang diembannya.

Dengan demikian terwujud suatu peraturan perundangan yang akomodatif dan komprehensif mengatur tentang ruang lingkup hewan dan bidang serta turunannya yang harus ditangani, dan simpul kritis penanganan yang terkait dengan manusia, hewan dan lingkungan dalam satu ekosistem, serta pengawasan produk hewan dalam konteks keamanan pangan mulai dari peternakan sampai ke meja makan (from farm to table). Undang Undang Veteriner akan merupakan suatu sumbangsih yang jelas dari profesi ini dalam mewujudkan karya dan baktinya kepada negara dan bangsa.

November 5, 2007 at 1:38 am 1 komentar

Tulisan Lebih Lama


Kategori

Blog Stats

  • 94,594 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya.


%d bloggers like this: