Pencegahan dan tatalaksana dermatofitosis pada kucing


Mungkin banyak yang pernah mendengar atau barangkali ada juga yang belum pernah mendengar istilah suntik jamur…istilah yang santer di kalangan pemilik hewan dan praktisi…

Benarkah ada suntikan jamur, atau antijamur tepatnya, dan apa yang dimaksud itu…

screenshot_20170305-174710_1Berikut ini adalah panduan pencegahan dan tatalaksana dermatofitosis pada kucing, termasuk juga bahasan soal vaksinasi, yang disampaikan oleh ABCD (Advisory Board on Cats Disease) tulisan Frymus dkk.

Silahkan klik Panduan Pencegahan dan Tatalaksana Dermatofitosis pada Kucing

Iklan

Maret 5, 2017 at 5:58 pm Tinggalkan komentar

Ternak dan Perubahan Iklim


Tidak dipungkiri, perubahan iklim yang sangat nyata terjadi dalam beberapa dekade ini. Perubahan iklim ternyata juga berdampak besar pada dunia peternakan.

Silahkan disimak informasi dari FAO tentang ternak dan perubahan iklim.

Silahkan klik di Ternak dan Perubahan Iklim

Maret 3, 2017 at 11:21 am Tinggalkan komentar

PP 3 tahun 2017, Otoritas Veteriner


Bagi siapapun yang berminat mengetahui isi Peraturan Pemerintah nomor 3 tahun 2017 tentang Otoritas Veteriner, silahkan unduh pada link berikut: pp-nomor-3-tahun-2017

Februari 10, 2017 at 8:03 pm 1 komentar

Pakan Kering Meningkatkan Risiko Diabetes Pada Kucing


Informasi terkini hasil riset peneliti Swedia yang dipublikasikan pada Journal of Veterinary Medicine bulan Desember 2016 yang meneliti sebanyak 2066 kucing dengan metode case control menyimpulkan bahwa pakan kering yang diberikan pada kucing meningkatkan risiko diabetes.

Diabetes pada kucing, umumnya berkaitan dengan obesitas dengan manifestasi diabetes mellitus tipe 2. Namun hasil riset tersebut mengungkap bahwa kucing dengan berat normal pun berisiko mengalami diabetes dengan asupan pakan kering.

Januari 26, 2017 at 6:37 pm Tinggalkan komentar

Toksoplasma bukan virus, Antraks bukan virus


Belakangan ini berita yang cepat beredar dan tersebar luas disebut viral (virus). Sebutan ini digunakan untuk menggambarkan proses penyebarannya diibaratkan infeksi serangan virus, yang oleh kebanyakan orang diasumsikan demikian. Meski sebenarnya penyebaran penyakit yang sangat cepat bukan hanya disebabkan virus saja.

Entah karena asumsi tersebut atau sebab lain ternyata pandangan publik tentang penyakit yang menular pada manusia dan berbahaya dikatakan juga sebagai virus. Sebut saja beberapa kasus yang sering kita dengar atau baca dalam media, bahwa toksoplasma disebut sebagai virus. Juga pada berita kasus antraks yang saat ini menjadi perhatian di Jogjakarta, disebut bahwa penyebabnya adalah virus antraks.

Tulisan ini kami sampaikan untuk menjadi informasi, meluruskan pengetahuan publik bahwa toksoplasma bukan virus, antraks juga bukan virus.

Toksoplasma adalah parasit. Parasit yang sangat kecil yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Toksoplasma adalah parasit protozoa. Inang definitifnya adalah kucing, artinya toksoplasma dapat berkembang biak secara sempurna hanya di dalam tubuh kucing. Namun demikian kucing bukanlah sumber penularan langsung toksoplasma, baik pada manusia maupun hewan lain termasuk kucing lain. Sumber penularan toksoplasma adalah ookista, telur yang sangat kecil hasil perkawinan toksoplasma jantan dan betina. Ookista ini keluar bersama kotoran kucing. Ookista ini tidak serta merta bisa menular dan menyebabkan penyakit pada pada individu lain bila tertelan. Ookista membutuhkan suatu kondisi agar berubah sifat menjadi infektif atau bisa mengingeksi. Perubahan kondisi tersebut dikenal sebagai SPORULASI. Proses sporulasi terjadi beberapa hari di luar tubuh kucing dengan kondisi yg sesuai, lembab dan tertutup. Oleh sebab  itu kotoran kucing yang mengandung ookista yang baru keluar dari tubuh kucing meski mengandung jutaan ookista tidak akan menyebabkan sakit. Penularan bisa terjadi dari ookista yang sudah mengalami sporulasi, biasanya berada di tanah. Ookista ini bisa mencemari sayur sayuran, pada tangan atau sela kuku saat berkebun, dll. Atau termakan oleh hewan lain misalnya ayam, sapi atau domba yang merumput dan akan menderita toksoplasmosis.

Selain dari ookista, manusia atau hewan juga bisa terluar dari bentuk toksoplasma yang lain yang berada di jaringan. Pada individu yang terinfeksi, toksoplasma bisa berada dan menetap di jaringan atau organ. Kucing bisa menderita toksoplasma bila memakan tikus yang menderita toksoplasma. Manusia bisa tertular bila memakan daging atau telur dari hewan penderita toksoplasma, bila tidak dimasak dengan baik.

Antraks juga bukan virus. Antraks adalah bakteri, tepatnya Baccilus anthrax. Penularan antrak ini tidak terjadi melalui kontak dengan penderita. Penularan bisa terjadi bila seseorang atau hewan memakan atau menelan spora antraks. Bakteri antraks bisa berubah bentuk menjadi spora bila bakteri yang ada di dalam tubuh penderita kontak dengan udara. Hal ini bisa terjadi bila penderita disembelih atau dibuka/dibelah (yang sudah mati). Oleh sebab itu hewan yang dicurigai menderita antraks terutama di daerah endemik, DILARANG DISEMBELIH, meski untuk tujuan diagnosis, untuk mencegah bakteri antraks di dalam tubuhnya berubah menjadi spora.

Antrak yang berbentuk spora sangat tahan terhadap lingkungan dan bisa bertahan di dalam tanah hingga puluhan tahun, dan berpotensi menjadi sumber penularan berikutnya. Oleh sebab itu hewan mati yang dicurigai antrak tidak boleh dibuka tubuhnya dan dikubur dalam dalam. Spora antrak bisa muncul kembali ke permukaan tanah bila tempat hewan mati tersebut digali atau tergerus air hujan. Spora ini bisa menular bila mencemari rumput dan tertelan, atau terbawa angin dan terhirup.

Hewan atau manusia juga bisa tertular bila memakan daging penderita.

Penderita antraks atau dicurigai antraks yang masih hidup bisa diterapi dengan baik dengan antibiotika.

Januari 25, 2017 at 6:24 am Tinggalkan komentar

Enterokokosis, bom waktu pada hewan kesayangan


enterococcus stefano teriarotti

Enterococcus sp. (Stefano Teriarotti)

Hewan kesayangan, anjing atau kucing merupakan hewan yang paling dekat dengan manusia. Interaksi keduanya bisa sangat intens, dengan memegang, mengelus, memeluk bahkan mencium. Terkait dengan hal tersebut ada yang perlu diwaspadai oleh pecinta hewan kesayangan, karena selain menjadi penyejuk hati, hewan kesayangan juga berpotensi menularkan dan menjadi sumber penularan penyakit pada manusia khususnya pemilik atau pecinta hewan kesayangan. Penyakit yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia disebut sebagai penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis yang sangat dikenal pada anjing atau kucing adalah rabies dan toksoplasmosis. Namun selain kedua penyakit tersebut ada juga penyakit zoonosis lain yang juga serius namun belum mendapat perhatian dengan baik, yang bisa menjadi bom waktu bila tidak ditangani dengan baik dan dicegah sejak dini, yaitu enterokokosis.

(lebih…)

Juni 16, 2016 at 11:04 pm 2 komentar

Toksokariasis, serangan tersembunyi dari hewan kesayangan


Banyak penyakit zoonosis pada hewan kesayangan yang tidak mendapat perhatian dengan seharusnya. Momok yang paling menakutkan dari hewan kesayangan, dalam benak pemilik atau orang secara umum adalah rabies dan toksoplasma. Namun pernahkah berpikir bahwa ada serangan yang lebih intens dari hewan kesayangan yang tidak kita perhatian dengan baik, salah satunya adalah toksokariasis. (lebih…)

Juni 4, 2016 at 9:20 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

Blog Stats

  • 250,008 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: