Anthrax. Mengapa ditakuti?

Januari 17, 2008 at 8:04 am Tinggalkan komentar


Mendengar antraks, pikiran kita mungkin akan teringat pada film-film bertema perang atau teroris, dimana menggunakan bahan yang berbahaya yang dapat membunuh jutaan manusia. Sebetulnya apakah antraks (anthrax) itu? Apakah memang benar demikian, Anthrax dapat membunuh manusia?


Antraks (seringkali ditulis anthrax) disebabkan oleh kuman atau bakteri yang bernama Bacillus anthracis. Jadi bukan tergolong virus atau parasit tetapi kuman. Bacillus anthracis ini sangat kecil dan tidak kelihatan dengan mata telanjang. Dengan bantuan mikroskop tampak berbentuk batang-batang lurus, dengan ujung siku (tidak membulat). Dalam biakan/kultur tampak sebagai rantai panjang, sedangkan di dalam tubuh biasanya tersusun tunggal atau dalam rantai pendek. Bakteri bersifat aerob dan akan membentuk spora bila cukup oksigen. Karena di dalam tubuh tidak cukup oksigen, maka tidak pernah dijumpai dalam bentuk spora. Bila kuman dalam bentuk spora akan tahan terhadap kekeringan dalam jangka waktu lama, bahkan dalam tanah dengan kondisi tertentu dapat tahan hingga berpuluh-puluh tahun. Itu sebabnya, bila dicurigai seekor hewan menderita antraks, maka bangkai dilarang dibuka meskipun untuk tujuan pemeriksaan, agar kuman tidak berubah ke dalam bentuk spora.

Mengapa ditakuti?
Kuman ini dapat menyerang pada hewan-hewan yang “berdarah panas”. Hewan yang paling rentan adalah ruminansia atau pemamah biak, babi tidak begitu rentan. Anjing kucing, tikus dan sebagian besar bangsa burung relatif tidak rentan, tetapi dapat diinfeksi secara buatan. Sedangkan hewan “berdarah dingin” sama sekali tidak rentan. Selain hewan, manusia juga rentan terhadap serangan antraks.

Serangan yang ditimbulkan biasanya akut atau perakut (sangat cepat). Serangan perakut biasanya sangat cepat/mendadak dan fatal, bahkan kadang tanpa gejala. Gejala yang ditemukan berupa sesak nafas, gemetar, ambruk kadang-kadang disertai kejang. Kematian biasanya terjadi dalam hitungan jam.

Pada manusia
Pada manusia sering ditemukan dalam bentuk kulit. Serangan bersifat lokal/terbatas, sehingga disebut antraks lokal. Pada luka terjadi rasa nyeri, diikuti pembentukan bungkul merah pucat yang bekembang menjadi kehitaman dengan cairan bening berwarna merah. Serangan ini biasanya melalui kulit yang luka. Selain itu adalah serangan bentuk usus. Kondisi ini ditandai perdarahan, kenyerian yang sangat pada daerah perut, muntah, kaku dan berakhir dengan kolaps dan kematian. Serangan bentuk ini biasanya melalui penularan melalui oral atau mulut atau dari makanan (food borne disease). Di samping itu juga ditemukan bentuk serangan pernafasan, dimana akan terjadi keradangan pada paru-paru, saluran nafas dan bagian bagian lain sistem respirasi. Serangan bentuk ini biasanya melalui penularan (air borne disease) dan juga bersifat fatal. Itu sebabnya dalam film-film digambarkan dengan mengirimkan surat yang telah ditaburi dengan spora bakteri antraks, atau menyebarkan melalui udara, mencampurkan ke dalam air atau makanan. Dan dalam perang dikenal sebagai serangan senjata biologis. Bila segera diketahui dan didiagnosis dengan cepat maka penderita dapat cepat diobati. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kuman atau bakteri umumnya dapat diatasi dengan antibiotika.

Di Indonesia dilaporkan penyakit ini ditemukan sejak tahun 1884, dan hingga tahun 1990 tercatat kejadian antraks di berbagai tempat di Jawa dan di luar Jawa. Sedangkan menurut laporan tahun 1975, antraks hanya dilaporkan di Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Namun dari informasi terakhir daerah enzootik antraks meliputi provinsi Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara barat, Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya (Papua). Khusus untuk Jawa Barat daerah enzootik antraks terdapat di Kabupaten Purwakarta, Subang, Krawang, Bekasi dan Bogor. Bagi masyarakat di daerah-daerah tersebut harus selalu waspada terhadap adanya serangan antraks, demikian juga ternak-ternak yang berasal dari daerah-daerah tersebut.

Entry filed under: penyakit, zoonosis. Tags: , .

Keuntungan dan kerugian kebiri dini dalam jangka panjang Beberapa fakta kebiri dini berdasarkan riset

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,081 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: