Cacing Trematoda pada Ayam di Indonesia

Agustus 22, 2008 at 2:20 am Tinggalkan komentar


Cacing ini ditemukan oleh Simon He dan Lili Zalizar dalam penelitian terhadap kerugian produksi daging akibat infeksi alamiah cacing saluran pencernaan pada ayam buras di Bogor dan sekitarnya.

Cacing tersebut ditemukan di dalam sekum ayam. Pada mulanya cacing tersebut diduga Catatropis verrucosa. Namun dengan pemeriksaan yang lebih teliti, dengan pewarnaan Semichon’s acetocarmine disertai pengukuran diperoleh informasi yang cukup mengejutkan.


Dengan pemeriksaan yang teliti, cacing tersebut mempunyai panjang rata-rata 3,8 mm dan lebar rata-rata 0,964 mm. Cacing ini mempunyai kelenjar ventral yang tersusun dalam dua jalur lateral yang masing-masing mengandung 14-17 buah kelenjar dan satu jalur median dengan hanya satu yaitu batil isap oral tanpa batil isap ventral. Pada esofagus tidak terdapat faring. Badan anterior lebih sempit dibanding badan posterior. Sekitar setengah posterior badan terisi oleh uterus yang melingkar-lingkar. Dibelakang uterus terdapat ovarium yang terletak postero-medial serta dua buah testes yang masing-masing terletak psotero-lateral. Di ujung posterior badan terdapat lubang ekskresi.

Deskripsi di atas tersebut sangat cocok dengan deskripsi cacing monostomum Notocotylus attenuatus yang disampaikan Rudolphi (1890). Yamaguti menetapkan N. attenuatus sebagai genotipe dari Notocotylus, sedangkan Dubois (1951) menganggap N. attenuatus sebagai spesies inquirenda. Memang menurut Lumden dan Zischke (1963) pakar seperti Stunkard (1960) pun mengakui bahwa sangat sulit menetapkan identifikasi spesies cacing dari genus Notocotylus berdasarkan ciri-ciri larva, morfologi cacing dewasa dan spesies inang. Dan Flyn (1973) menyatakan bahwa Notocotylus attenuatus secara alamiah ditemukan di dalam seka dan rektum ayam dan unggas-unggas lain.

Nama cacing tersebut tidak (belum) tercantum dalam daftar cacing yang ada pada hewan mamalia dan unggas di Indonesia yang disusun Adiwinata (1955, 1958). Sehingga laporan Simon He dan Lili Zalizar tahun 1992, merupakan informasi pertama cacing Notocotylus attenuatus di Indonesia yang ditemukan pada ayam buras.

Entry filed under: penyakit. Tags: .

Perbedaan disfagia orofaring dan esofagus Penyebab stress pada hewan coba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,081 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: