Lagi-lagi Daging PMK….

September 8, 2008 at 7:33 am Tinggalkan komentar


Berikut ini saya informasikan ulasan rencana dimasukkannya daging asal Brasil yang notabene masih belum bebas PMK (penyakit Mulut dan Kuku) dari sejawat Drh. Tata Naipospos. Beliau adalah perwakilan dokter hewan indoensia yang duduk dalam organisasi kesehatan hewan dunia.

Saya baru membaca artikel ini (http://www.mediaindonesia.com/ index.php? ar_id=MjE), sebenarnya sudah muncul di Media Indonesia pada tanggal 6 Mei 2008. Saya kira artikel ini sangat menarik, karena ditulis oleh seseorang yang non dokter hewan. Salut untuk Dr Roy Sparringa yang mengangkat persoalan kebijakan impor daging yang seharusnya juga menjadi kepedulian profesi dokter hewan. Saya ’share’ dengan teman2 sejawat untuk pengetahuan bersama.

Salam,

Tata Naipospos

Media Indonesia, Selasa, 06 Mei 2008 07:48 WIB
Roy Sparringa, Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Kementerian Negara Republik Indonesia
Menyoal Kebijakan Impor Daging

Polemik seputar rencana pemerintah yang akan mengimpor daging sapi dari Brasil mengundang kontroversi. Keprihatinan utama sebagian pakar kesehatan hewan Indonesia adalah belum terbebasnya negara Amerika Selatan itu dari penyakit mulut dan kuku (PMK). Pemerintah meyakinkan publik bahwa rencana itu tetap dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Langkah pertama, pemerintah akan mengirim tim teknis guna menghimpun informasi mengenai status PMK di Brasil dan mengkaji risikonya. Langkah itu penting, asalkan tim tersebut benar-benar melaksanakan kajian risiko secara profesional dan bukan sekadar ‘perjalanan dinas’ sebagai bagian tindakan pembenaran dalam rangka meredam keresahan.

Australia, Indonesia, Amerika Tengah, Amerika Utara, dan daratan Eropa Barat saat ini dinyatakan sebagai daerah yang bebas dari PMK oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (Office International Ded Epizooties/OIE) . Indonesia mempunyai kebanggaan menjadi salah satu di antara 60 negara yang tidak melakukan vaksinasi PMK dan terbebas dari penyakit tersebut, mengingat Indonesia dikelilingi negara yang masih endemik PMK, misalnya Malaysia, India, Filipina, dan Thailand.

Selama ini Indonesia membayar mahal upaya pencegahan PMK, salah satunya mempertahankan impor daging sapi dari negara yang terbebas PMK, antara lain dari Australia, Selandia Baru, AS, dan Kanada. Indonesia harus mengimpor daging sapi karena hingga saat ini diperkirakan produksi daging tersebut di dalam negeri baru mencapai 250 ribu ton atau 65% dari total kebutuhan konsumsi daging yang mencapai 385 ribu ton. Sisanya sekitar 135 ribu ton harus dipasok dari luar negeri.

Menurut keputusan OIE, saat ini Brasil masuk negara yang belum sepenuhnya bebas PMK, tetapi zona yang dinyatakan bebas PMK tanpa program vaksinasi di Brasil hanya Negara Bagian Santa Catarina. IOE juga menyatakan beberapa negara bagian di Brasil bebas PMK dengan program vaksinasi, antara lain di Acre, Amazon State, Rio Grande do Sul, Rondonia, serta di bagian tengah dan selatan State Para.

Inggris yang tergolong negara maju dan mempunyai sistem veteriner dan pengawasan yang andal pun berjuang keras untuk terbebas dari PMK. Inggris melaporkan terjadi suatu outbreak, yaitu kejadian luar biasa (KLB) PMK pada babi, 20 Februari 2001. Virus itu cepat menyebar dan dilaporkan ada 2.030 KLB pada ternak domba, sapi, kambing dan babi. Lebih dari empat juta hewan dimusnahkan sebagai bagian pengendalian penyebaran virus ini.

Pada 4 Agustus 2007 Inggris melaporkan kembali telah terjadi KLB PMK di Surrey. Jelas hal itu berdampak buruk bagi ekspor daging sapi dan beban ekonomi yang ditanggung Inggris. OIE memberikan status bebas PMK bagi Inggris pada 19 Februari 2008. Namun, AS masih memberlakukan larangan impor daging dari wilayah Provinsi Surrey, Inggris, (APHIS, 30 Januari 2008).

Virus PMK ditemukan pada hewan yang terinfeksi melalui tinja, urine, sekresi, udara ataupun benda dan bahan yang terkontaminasi oleh virus ini. Beberapa kejadian penyebaran virus itu dilaporkan karena kecerobohan atau kecelakaan terlepasnya virus dari laboratorium, serta penggunaan vaksin yang salah pada saat produksi.

Risiko impor daging dari Brasil

Pemerintah melalui Departemen Pertanian akan mengirimkan tim teknis untuk memverifikasi kelayakan ekspor bagi rumah potong hewan (RPH) di Brasil dan melihat unsur kehalalannya. Dari kutipan beberapa media massa, tidak dijelaskan secara detail apa yang akan dilakukan tim teknis ini. Sebenarnya OIE telah memberikan panduan dalam melakukan analisis risiko impor hewan dan produknya, yaitu melalu tiga tahapan, identifikasi bahaya, kajian risiko, dan manajemen risiko. Tahapan awal telah dilakukan oleh pemerintah dalam identifikasi bahaya. Artinya, pemerintah akan mengimpor daging dari zona yang terbebas dari PMK. Tahapan kedua dalam kajian risiko, pemerintah seharusnya tidak hanya melihat RPH, tetapi juga melakukan kajian menyeluruh. Di antaranya mengkaji bagaimana peluang daging tersebut terkontaminasi virus PMK di Brasil hingga sampai diterima di pintu masuk pelabuhan di Indonesia (release assesment), bagaimana peluang paparan virus PMK kepada ternak yang
rentan (exposure assessment), serta apa dampak biologis dan ekonomisnya bagi Indonesia jika terpapar oleh virus tersebut (consequence assessment). Tahapan akhir adalah manajemen risiko di luar kapasitas tim teknis yang akan memutuskan apakah Indonesia layak mengimpor daging dari Brasil.

Tim teknis harus melakukan release assessment di Brasil dengan mengkaji sistem veteriner, sistem pengawasan, dan sistem pemantauan berkala PMK di Brasil, sistem zonasi, sistem sertifikasi di Brasil, serta prosedur ekspor untuk digunakan dalam mengestimasi peluang kontaminasi virus PMK pada daging yang diimpor Indonesia. Pengkajian tersebut tidak hanya dilakukan di negara pengimpor, tetapi juga memerlukan pengkajian di dalam negeri untuk mengetahui peluang paparan virus PMK jika terjadi di Indonesia. Bagaimana kesiapan Indonesia jika paparan virus tersebut terjadi, antara lain kesiapan dalam penanggulangannya dengan kondisi pelayanan veteriner dan sistem pemantauan saat ini. Indonesia harus mempunyai tim pengkaji risiko yang andal untuk mengestimasi risiko yang terjadi, baik peluang penyebaran penyakit maupun dampak ekonominya bagi Indonesia. Para pembuat kebijakan tidak boleh mengintervensi kinerja tim pengkaji risiko. Tim itu harus bekerja secara
profesional, tidak memihak, serta memiliki integritas tinggi. Estimasi risiko yang dibuat oleh tim ini akan digunakan Menteri Pertanian untuk mengevaluasi risiko, opsi serta keputusan yang akan diambil, dan tentunya melalui komunikasi interaktif dan transparan dengan Menteri Perdagangan dan pihak terkait lainnya.

Paradigma impor daging Indonesia dari tahun ke tahun berulang. Pertimbangan penting bagi pemerintah adalah mencari daging yang murah dan aman. Seberapa amankah daging yang akan diimpor? Hal itu memerlukan kebijakan dengan pendekatan risiko. Murah tidak boleh mengabaikan faktor risiko. Tidak ada tindakan yang terbebas dari risiko. Namun, risiko yang mungkin akan timbul harus dalam batas yang dapat dikendalikan. Kajian risiko PMK tidak dilakukan pemegang kebijakan, tetapi dilakukan pakar, peneliti, dan praktisi dalam bidang kesehatan hewan, mikrobiologi, ekonomi, dan matematika.

Entry filed under: veteriner. Tags: , .

Cara memegang hewan pengerat kesayangan Sapi Madura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 212,472 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: