Domba Garut

September 25, 2008 at 3:11 am 4 komentar


Domba Garut adalah domba hasil persilangan beberapa bangsa domba sehingga menjadi bangsa domba tersendiri dengan tampilan fisik yang khas. Domba Garut adalah plasma nutfah yang unik dan asli Indonesia yang berkembang di daerah Priangan atau Garut sehingga dikenal dengan nama Domba Garut. Tulisan ini juga diharapkan menjadi pendorong bahwa Domba Garut sebagai plasma nutfah Indonesia tersebut harus dilindungi dan menjadi lestari serta tidak diakui atau diklaim oleh pihak-pihak lain, selain karena Domba Garut sendiri yang mengalami perkembangan proses perkawinan ataupun dalam upaya upgrading untuk tujuan yang lain seperti produksi daging sehingga dikuatirkan akan menjauhkan dari ciri-ciri Domba Garut itu sendiri. Untuk itu sebaiknya juga dibuat standarisasi karakteristik Domba Garut.

Sejarah

Proses terbentuknya Domba Priangan atau Domba Garut, sementara ini diyakini berawal dari persilangan tiga bangsa domba, yaitu Domba Merino, Domba Kaapstad, dan Domba Lokal dari Wilayah Priangan, sehingga dalam perkembangan selanjutnya dikenal dengan nama Domba Priangan atau Domba Garut, karena awal persilangan dan perkembangan Domba Priangan terbaik berasal dari daerah Garut.

Tahun 1864 pemerintah Belanda mulai memasukkan Domba Merino yang pemeliharaannya diserahkan pada KF Holle. Tahun 1869 domba-domba tersebut dipindahkan ke Garut, dan secara bertahap dilakukan penyebaran ke beberapa penggemar domba, antara lain kepada Bupati Limbangan (satu pasang) dan Van Nispen seekor pejantan Merino yang pada saat itu kebetulan memiliki seekor domba Kaapstad, serta disebarkan ke beberapa daerah lain, seperti ke Kabupaten Sumedang, Garut, dan Bandung (Merkens dan Soemirat, 1926). Penyebaran tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya ras Domba Priangan atau Domba Garut. Persilangan yang telah berlangsung secara terus menerus selama puluhan tahun, dan berjalan tanpa suatu program dan arah yang jelas, antara Domba Merino X Domba Lokal, Domba Merino X Domba Lokal X Domba Kaapstad, banyak diyakini oleh para peneliti bahwa ini merupakan asal usul terbentuknya ras Domba Priangan. Namun demikian, kajian secara ilmiah belum dapat diungkapkan dengan pasti, khususnya kajian dari sisi komposisi darah dan gena Domba Garut (Heriyadi, 2002).

Versi lain mengenai Asal-Usul Domba Priangan atau Domba Garut: Domba Garut diyakini berasal dari domba lokal asli Garut, yaitu dari Daerah Cibuluh dan Cikeris di Kecamatan Cikajang serta dari Kecamatan Wanaraja. Keyakinan tersebut dilandasi oleh teori bahwa seluruh bangsa domba yang ada di dunia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok domba bermuka putih (white face) dan domba bermuka hitam (black face).

Domba-domba muka putih secara genetik membawa warna yang lebih dominan dibandingkan warna pada domba muka hitam, sedangkan domba-domba yang diimpor masuk ke Indonesia sejak Jaman Belanda sampai sekarang kebanyakan dari kelompok domba muka putih (termasuk Domba Merino, Texel, dan Domba Ekor Gemuk), sehingga warna hitam yang banyak terdapat pada Domba Garut dipercaya berasal dari domba lokal, khususnya domba lokal dari daerah Cibuluh dan Wanaraja yang sejak dahulu dikenal dengan domba-dombanya yang dominan berwarna hitam, termasuk dominan hitam pada tubuh secara keseluruhan, di samping itu Domba Cibuluh memiliki ciri yang sangat spesifik, yaitu bertelinga rumpung (rudimenter) dengan ukuran panjang kurang dari 4 cm atau ngadaun hiris (4 – 8 cm), sedangkan domba-domba lokal rata-rata memiliki daun telinga yang rubak dengan ukuran panjang lebih dari 8 cm.

Kuping yang rumpung pada Domba Garut atau Domba Priangan adalah ciri yang sangat khas, dan tidak terdapat pada bangsa domba yang lain, namun konon kuping sejenis ini terdapat pula pada salah satu bangsa domba di sekitar Turki dan Spanyol. Domba ini memiliki berat badan rata-rata di atas domba lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat memiliki berat sekitar 60 – 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa domba jantan.

Domba Garut adalah jenis domba tropis bersifat proliflic yaitu dapat beranak lebih dari 2 (dua) ekor dalam 1 siklus kelahiran. Dalam periode satu tahun, Domba Garut dapat mengalami 2 siklus kelahiran.

Populasi Domba Garut terbesar di Indonesia tentunya ada di wilayah provinsi Jawa Barat dengan lokasi daerah penyebaran antara lain: Garut, Majalengka, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang, Indramayu dan Purwakarta.

Standarisasi

Domba Garut merupakan plasma nutfah terlangka di dunia karena postur hewan ternak ini nyaris menyerupai bison di dataran Amerika Utara. Namun dalam dunia peternakan ada upaya untuk melakukan perbaikan untuk memenuhi kebutuhan daging dengan mengawinsilangkan dengan domba-domba lain, sehingga keaslian domba garut akan semakin pudar. Keaslian plasma nutfah tersebut perlu dijaga dengan baik dengan melakukan standarisasi.

Hasil standardisasi Domba Garut tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Ciri khas Domba Garut adalah kombinasi antara ekor yang berbentuk segi tiga terbalik (ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong) dengan bentuk kuping yang rumpung/rudimenter (< 4 cm) atau ngadaun hiris (4 – 8 cm). Kemunculan salah satu bentuk ekor yang tipis/lurus atau telinga yang rubak (> 8 cm) tidak dapat digolongkan ke dalam Domba Garut.

(2) Standar sifat-sifat kuantitatif Mutu Bibit Domba Garut adalah :

  • Bobot badan Domba Garut jantan minimum 57,74 kg.
  • Bobot badan Domba Garut betina minimum 36,89 kg.
  • Panjang badan Domba Garut jantan minimum 63,41 cm.
  • Panjang badan Domba Garut betina minimum 56,37 cm.
  • Lingkar dada Domba Garut jantan minimum 88,73 cm.
  • Lingkar dada Domba Garut betina minimum 77,41 cm.
  • Tinggi pundak Domba Garut jantan minimum 74,34 cm.
  • Tinggi pundak Domba Garut betina minimum 65,61 cm.
  • Lebar dada Domba Garut jantan minimum 22,08 cm.
  • Lebar dada Domba Garut betina minimum 16,04 cm.

(3) Sifat-sifat kualitatif Domba Garut di Jawa Barat adalah :

  • Karakteristik warna bulu dominan pada Domba Garut Jantan adalah kombinasi warna hitam-putih, yaitu sebesar 86 %.
  • Karakteristik warna bulu dominan pada Domba Garut Betina adalah kombinasi warna hitam-putih, yaitu sebesar 75 %.
  • Motif bulu dominan pada Domba Garut jantan adalah hitam (19,83 %) dan belang sapi (14,88 %).
  • Motif bulu dominan pada Domba Garut betina adalah hitam (20,55 %) dan belang sapi (14,26 %).
  • Bentuk dasar tanduk dominan pada Domba Garut jantan adalah Gayor (51,65 %), Ngabendo (17,36 %), dan Leang (16,53 %).

Entry filed under: pediatrik, ternak. Tags: , , .

Grand Mal Seizure pada Anjing Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

4 Komentar Add your own

  • 1. irna  |  November 14, 2008 pukul 6:49 am

    makasih bgt, infonya bermanfaat bgt.
    tapi strandarisasi domba garut berdasarkan karakteristik kualitatif dari bentuk muka, bentuk tanduk, dan bentuk ekor yang berdasarkan grade A, B, C, seperti apa?
    kemudian dari standarisasi lebih baik pada daerah centra atu non centra?
    kemudian bedanya peternak kelompok dan bukan kelompok dan HPDKI, bukan HPDKI

    TQ

  • 2. triakoso  |  November 17, 2008 pukul 4:17 am

    standarisasi adalah kesepakatan-kespakatan performa yang dihasilkan dari pembicaraan para praktisi atau para ahli dibidang domba garut. standarisasi ini bila ingin memperoleh kekuatan hukum biasanya dibuat sebagai peraturan daerah atau peraturan menteri atau semacamnya. sebagaimana di jawa timur juga dilakukan hal demikian berkaitan dengan standarisasi ternak yang diinginkan (ayam bekisar, sapi madura, dll). peraturan daerah atau permen tentang standarisasi tsb selanjutnya digunakan semua pelaku bisnis atau peternak di bidang domba garut. jadi tidak masalah dilakukan dimana saja. bila aturannya yang disepakati bersifat nasional, ya siapa saja yang ingin menyatakan atau mengukur domba garut harus sesuai standar yang sudah disepakati, tidak peduli daerah centra atau bukan centra termasuk juga apakah dia peternak biasa atau pedagang atau peternak dari kelompok tertentu (misal, HPDKI). standarisasi ini bisa dievaluasi lagi sesuai kebutuhan di masa mendatang.

  • 3. marek  |  Februari 14, 2010 pukul 6:33 am

    terima kasih infonya dok…
    yang mau saya tanyakan…apakah domba garut dapat dihilangkan sifat petarungnya…menurut pengalaman di lapangan setelah bekerja…hampir sebagian besar domba garut dijadikan aduan dan perawatan akan sifat bertarungnya sangatlah sulit sekali? menurut dokter apakah jenis domba ini bisa dikomersialkan sebagai pemenuh kebutuhan pangan qta, sedangkan asumsi di masyarkat domba ini termsuk aduan ?

  • 4. triakoso  |  Februari 23, 2010 pukul 5:19 am

    Terima kasih Marek,
    Domba garut memang salah satu tujuan pemeliharaannya adalah digunakan sebagai domba aduan atau tarung. Namun semua itu kembali kepada siapa pemeliharanya dan untuk tujuan apa. Selain bentuk tanduknya yang bagus, domba garut juga mempunyai proporsi karkas yang bagus sehingga juga menguntungkan bila dijadikan sebagai sumber protein hewani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,081 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: