Berkaca Pada Dokter dan Carut Marut Pelayanan Kesehatan

Maret 31, 2009 at 3:54 am 1 komentar


Pendidikan Dokter Hewan sudah seharusnya berkaca pada dunia kesehatan saat ini terutama pelayanan dokter dan pelayanan rumah sakit. Baru-baru ini sebuah gugatan dimenangkan atas pasien Sisi penderita kista ovarium yang semakin menderita akibat kesalahan penanganan. Usaha itu tentu sangat panjang dan melelahkan. Mungkin juga banyak bahkan sangat banyak kejadian serupa yang menimpa pasien penderita yang tidak tersampaikan atau pasien takut komplain karena tidak tahu.

Tapi sedemikian parahkah kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia? Berikut ini adalah sebuah email yang dikirimkan sejawat saya dan perlu kita cermati bersama untuk menjadi pelajaran, karena pengirimnya juga seorang dokter. Dan pendidikan dokter hewan harus berkaca dan melakukan redesign kurikulum, melakukan pendekatan/model pendidikan yang baru dan sebagainya, agar pelayanan kesehatan hewan tidak sedemikian juga terjadi pada pelayanan kesehatan manusia.

BENARKAH SEDEMIKIAN PARAHNYA KONDISI PELAYANAN RUMAH SAKIT KITA ? WASPADALAH !

Halo rekan-rekan, Ini tulisan yang mungkin ‘aneh’, saya sebagai seorang dokter justru memintarekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto  di Kompas  4  Maret  2009 lalu, yaitu mengenai ‘caveatvenditor’ (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .

Ceritanya  begini, beberapa  hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam  berdarah (DBD).  Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya  temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tahu perkembangan kondisinya.

Abang   saya  paksa   dirawat  inap  karena  trombositnya  82  ribu,  agak mengkuatirkan, padahal  dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam,  nggak mual,  hanya  merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah ‘mencurigakan’ , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di  RS, jadi  saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya ‘menggelikan’ . Pasien pun diperiksa
ulang  darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.

Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai ‘ribut’ karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa  itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat  Ranitidin (obat  untuk  penyakit  lambung),  padahal dia nggak sakit lambung, & nggak  mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok  paginya  dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti  ganti lagi.  Belum  lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD.

Jadi  resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya keteman  yang  praktik di RS tersebut  dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya ‘bagus  &  pintar’, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.

Malamnya  via telepon  dokter  penyakit  dalam  beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang ‘nggak nyambung’, jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visit & nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk  menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep  tertulis  obat Ondansetron  suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang  nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak.

Saya  sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.

Pas  saya serahkan  obatnya  ke perawat, dia tanya ‘obat suntiknya mana?’, saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti  menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada  saya.  Malah saya  dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat.

Saya  beritau saja  bahwa  pasien  100%  sadar,  jadi harus  pasien  yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter  saat  visite  nggak jelaskan  apapun  mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang ‘bengong’.

Saat  saya tunggu  Abang,  pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah  2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasientersebut visite, dia hanya ngomong ‘sakit ya?’,  ‘masih  panas?’,  ‘ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya’, visit nggak sampai 3 menit saya hitung.

Besoknya  dokter penyakit  dalam  yang tangani Abang visit kembali & nggak komentar  apapun  soal penolakan membeli obat yang dia resepkan.. Dia hanya ngomong bahwa  kalau  trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak  heran  Ponari  dkk  laris,  karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak  rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh  obat-obat yang nggak  diperlukan & dibuat  ‘miskin’ untuk membeli obat-obat  yang  mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah ‘dibayar’  cukup  mahal ternyata nggak  banyak  menjelaskan  pada  pasien sementara kadang kala  keluarga  sengaja  berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visit.

Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang  dokter  supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur  nggak  jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.

Sebulan  lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap  di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng  akibat  sakit  tifoid.  Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.

Kalau  ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga bisa berguna  sebagai  pelajaran  berharga  untuk rekan-rekan  semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.

rgds

Billy

Kunjungi http://KonsulSehat. web.id

Entry filed under: penyakit, veteriner. Tags: , .

Pandemi Flu Burung Buku Veteriner Gratis

1 Komentar Add your own

  • 1. nastiti  |  November 7, 2010 pukul 7:01 am

    stuju ! pelayanan rumah sakit di Indonesia emang buruk !
    saya juga punya pengalaman yg sama pas sakit dbd ! dokter’a cuma visit sekali sehari dan cuma 5 menit ! cih lah ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 212,472 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: