Rabies di Madura, Mungkinkah?

September 16, 2009 at 5:18 am 1 komentar


Beberapa saat yang lalu kita sempat dikejutkan dengan berita bahwa Bali terjangkit Rabies. Rabies adalah penyakit yang disebabkan virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Rabies seringkali diidentikkan dengan anjing, sehingga muncul istilah anjing gila. Padahal virus rabies dapat menyerang hewan apa saja yang “berdarah panas” termasuk manusia. Berita terakhir menyebutkan bahwa kejadian Rabies sudah meluas hingga ke Tabanan dan Gianyar yang sebelumnya hanya terjadi di Badung dan Denpasar.

Namun saya sendiri sebetulnya tidak begitu terkejut bilamana Bali terjangkit Rabies. Halmana menurut saya akibat Jawa “belum” bebas Rabies. Sebetulnya saya pernah berdiskusi (saat menempuh studi, sekitar tahun 2002) dengan pengambil kebijakan yang pernah menyatakan bahwa suatu daerah dinyatakan bebas bilamana tidak ada laporan kasus selama periode waktu tertentu. Saat itu saya keberatan bilamana Jawa dinyatakan bebas Rabies. Mengapa? Karena ada beberapa daerah di pulau Jawa yang belum dinyatakan bebas Rabies, meskipun telah beberapa lama tidak dilaporkan adanya kasus Rabies.

Pulau Madura sejak zaman penjajahan kolonial Belanda dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Hal ini didasarkan pada Hondsdolhed Ordonantie (staatblad 1926, No. 451 yunto Stbl 1926 No. 452) yang menyatakan bahwa beberapa wilayah karesidenan dan pulau di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa itu bebas rabies. Termasuk di antaranya wilayah pulau Madura.



Faktor Risiko

Melihat kejadian Rabies di Bali, Madura juga mempunyai risiko yang sama bahkan lebih besar. Faktor risiko yang utama adalah lalu lintas hewan. Beberapa bulan yang lalu sebelum jembatan Madura resmi dibuka, untuk menuju ke pulau Madura maka harus menggunakan perahu atau kapal. Proses perjalanan dengan alat transportasi tersebut sedikit lebih ribet dibanding saat jembatan Madura diresmikan dan dengan mudahnya kendaraan terutama roda 4 melintas dan masuk ke wilayah pulau Madura. Kemudahan tersebut termasuk dalam membawa barang-barang termasuk hewan ke dalam mobil karena tidak menunggu terlalu lama untuk antri menyebrang sehingga peluang hewan tersebut ketahuan petugas ketahuan peugas juga semakin kecil

Faktor kedua adalah pengawasan lalu lintas hewan yang dilakukan karantina hewan. Setahu saya saat ini pengawasan lalu lintas hewan yang dilakukan karantina hewan masih hanya dilakukan di gerbang transportasi laut yaitu di Ujung dan Kamal. Dinas karantina sepertinya belum melihat pentingnya pengawasan lalu lintas hewan ataupun bahan asal hewan yang diangkut dan melintas melalui jembatan Madura. Sedangkan pengawasan yang dilakukan di gerbang keluar masuk puklau Madura pengawasan juga tidak dilakukan dengan ketat, sehingga juga tetap punya peluang hewan bisa dibawa masuk ke pulau Madura dengan kendaraan.

Faktor risiko berikutnya adalah hewan peliharaan itu sendiri. Perlu dipahami bahwa Rabies tidak hanya menyerang pada anjing saja. Namun Rabies juga bisa menjangkiti hewan-hewan lain termasuk manusia. Memang kecil kemungkinan anjing masuk ke pulau Madura karena ada persepsi bahwa pulau Madura adalah mayoritas masyarakat muslim. Namun hewan peliharaan lain yang juga mempunyai tingkat risiko tinggi adalah kucing. Selain itu, Rabies juga bisa menyerang hewan-hewan lain baik hewan peliharaan ataupun hewan liar, seperti kambing, domba, sapi, kuda, kelelawar, kera, monyet

Pengetahuan masyarakat. Faktor ini sangat penting karena bagaimanapun peran serta masyarakat sangat membantu untuk mengetahui ada tidaknya kasus Rabies atau peluang-peluang Rabies masuk ke Pulau Madura seperti pengetahuan masyarakat bahwa tidak hanya anjing saja yang dapat menderita Rabies, masyarakat juga harus sadar bahwa sangat berisiko bila memasukkan hewan ke pulau Madura. Masyarakat juga harus tahu ciri-ciri atau gejala hewan yang menderita Rabies serta bagaimana harus melaporkannya, termasuk juga seandainya ada anggota masyarakat yang tergigit (tidak hanya anjing, bisa kucing, kera, dll) hewan yang dicurigai menderita Rabies, apa yang harus dilakukan terhadap orang yang digigit dan apa yang harus dilakukan terhadap hewan yang menggigit. Perlu disadari bahwa masyarakat Bali sejak lama tidak mengenal bahaya Rabies, sehingga pada beberapa kasus, penderita tidak merasa perlu memeriksakan diri ke dokter karena dianggap sebagai “gigitan anjing biasa saja”. Artinya masyarakat Bali menganggap bahwa gigitan anjing bukan merupakan ancaman serius, sebagaimana dialami tahun-tahun sebelum (sebelum terjadi wabah Rabies), sehingga saat tergigit anjing tidak merasa perlu harus ke dokter.

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan, betapa pentingnya sistem kesehatan hewan nasional serta penerapannya dengan baik. Beberapa dinas peternakan secara aktif melalukan tindakan surveilance atau penyidikan untuk beberapa penyakit tertentu dan seharusnya juga termasuk Rabies. Mudah-mudahan hal ini menyadarkan kita semua bahwa mencegah tetap selalu lebih baik dibandingkan mengobati, sehingga tidak perlu terjadi, pulau Madura juga mengalami hal yang sama dengan pulau Bali, terjangkit Rabies.

Entry filed under: hewan kesayangan, penyakit, veteriner, zoonosis. Tags: .

Undang-undang Kesehatan Hewan dan Peternakan 2009 Membandingkan umur anjing dengan umur manusia

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,259 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: