KKP Mendirikan Rumah Sakit khusus Ikan, Siapa Dokternya??

Agustus 19, 2010 at 3:51 am 2 komentar


Ada kabar bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendirikan Rumah Sakit khusus ikan pada tahun 2010 dan akan diresmikan pada akhir tahun 2010. Sebetulnya ini adalah terobosan baru yang sangat baik. Namun ada beberapa catatan yang menurut saya harus digarisbawahi.

Tentu dalam pendirian Rumah Sakit Ikan tidak hanya mendirikan bangunan fisiknya saja. Yang penting adalah aktifitas di dalamnya. Karena Rumah Sakit, tentu ada yang sakit dan ada yang mengobati. Yang sakit tentu saja ikan atau satwa akuatik. Pertanyaannya adalah siapa yang menjadi juru sembuh atau dokternya??? Bagi saya itu adalah pertanyaan besar…

Saya memberikan apresiasi Kemetrian Kelautan dan Perikanan dalam upaya mendirikan Rumah Sakit khusus untuk ikan. Namun tidak berharap bahwa upaya yang baik untuk mengatasi atau menyembuhkan ikan-ikan yang sakit tersebut justru menjadi masalah baru berkaitan dengan kewenangan medis dalam praktek penyembuhan penyakit. Merujuk kepada UU no 18 tahun 2009 bahwa kesehatan hewan adalah segala urusan yang berkaitan dengan perawatan, pengobatan hewan, pelayanan kesehatan hewan, pengendalian dan penaggulangan penyakit hewan, penolakan penyakit, medik reproduksi, medik konservasi, obat hewan dan peralatan kesehatan hewan serta keamanan pakan (pasal 1 ayat 1). Siapa yang bertanggung jawab tentang kesehatan hewan, tentu saja tenaga medik dan paramedik kesehatan hewan. Tenaga medik kesehatan hewan adalah Dokter hewan, Dokter hewan spesialis, sarjana kedokteran hewan (pasal 71), bukan tenaga ahli yang lain, bukan sarjana yang lain termasuk juga bukan sarjana perikanan. Sedangkan hewan adalah binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, dan/atau udara, baik yang dipelihara maupun yang di habitatnya (pasal 1 ayat 3). Berdasarkan pasal 1 ayat 3 tersebut tentu saja ikan termasuk dalam kewenangan medis dokter hewan. Oleh sebab itu, maka dalam aktifitas kegiatan di Rumah Sakit khusus ikan yang didirikan oleh KKP harus melibatkan tenaga kesehatan hewan yaitu dokter hewan, dokter hewan spesialis, sarjana kedokteran hewan dan paramedik veteriner dalam menangani segala kasus penyakit ikan sesuai dengan UU 18 tahun 2009, bukan tenaga ahli yang lain, bukan sarjana yang lain. Hal ini agar tidak timbul kerancuan, tumpang tindih tugas dan wewenang, termasuk misalnya dalam penerbitan surat keterangan sehat ikan yang mana juga menjadi wewenang (otoritas) dokter hewan sebagaimana FAO menyatakan demikian.

Pertanyaan berikutnya, siapkah dokter hewan, dokter hewan spesialis, paramendik veteriner melakukan tugas di Rumah Sakit khusus ikan yang didirikan oleh KKP….???

Entry filed under: penyakit, veteriner. Tags: .

Seberapa sering membersihkan gigi hewan kesayangan? Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H

2 Komentar Add your own

  • 1. valentine S  |  Agustus 21, 2010 pukul 2:52 am

    saya baca tulisan bapak membuat saya bertanya2 seberapa luas kewenangan sebagai dokter hewan sebagai paramedis. soalnya saya membaca undang2 RI no 18 tahun 2009 dan menurut saya kurang di lampirkan secara terperinci batasan2 sebagai dokter hewan.

  • 2. triakoso  |  Agustus 24, 2010 pukul 4:07 am

    @Valentine : Mungkin Valentine agak salah persepsi. Tugas dan kewenangan dokter hewan sudah jelas dan tidak berperan sebagai paramedis. Paramedis veteriner adalah asisten dokter hewan (tenaga pembantu kesehatan hewan). Bagi saya posisi paramedis veteriner bisa dilihat atau merujuk pada veterinary technician, di Indonesia bisa merujuk pada peran tenaga paramedik (kedokteran manusia).
    Sejauh yang saya amati, peran paramedis veteriner di Indonesia berubah dari waktu ke waktu. Pada jaman belanda peran paramedis ini sebagai asisten dokter hewan. Saat ini memang peran tenaga pembantu kesehatan hewan (istilah yang umum dipakai saat ini) atau mantri (kesehatan) hewan atau paramedis veteriner masih diposisikan untuk “menggantikan peran dokter hewan”, dimana paramedis melakukan pemeriksaan, diagnosis dan pengobatan. Kondisi ini terjadi mungkin karena tenaga dokter hewan masih terbatas. Menurut saya peran paramedis veteriner saat ini harus direposisi dengan semakin meningkatnya jumlah dokter hewan dan bidang kerja.
    Memang dari UU no 18 tahun 2009 belum menjelaskan secara rinci peran dan tugas paramedis veteriner. Dan itu tentu saja membutuhkan peraturan yang lebih rendah untuk menjelaskan lebih detail peran dan fungsi paramedik veteriner.
    Untuk referensi anda bisa melihat di http://www.avma.org/animal_health/brochures/careers/technology_brochure.asp atau di http://en.wikipedia.org/wiki/Veterinary_technician. Bisa anda lihat di http://www.navta.net/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 212,472 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: