Boyolali KLB Antraks

Februari 21, 2011 at 6:46 am Tinggalkan komentar


Pemkab Boyolali, Jawa Tengah, menyatakan daerahnya sebagai daerah dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) Antraks karena telah ada suspect penularan antraks dari hewan kepada manusia. Pemkab akan berusaha maksimal menekan penyebarluasan kuman ini. Sementara itu, Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Boyolali menegaskan akan melakukan vaksinasi terhadap seluruh sapi di Dukuh Tangkilan, Desa Karangmojo, Senin (21/2/11) besok. Kepala Dinas Peternakan Boyolali, Dwi Priyatmoko, mengatakan vaksinasi terhadap seluruh hewan di Tangkisan itu merupakan langkah pencegahan agar tidak menular ke hewan lainnya.  Catatan Dinas Kesehatan Pemkab Boyolali, kasus wabah penyakit antraks pada manusia juga pernah terjadi di Boyolali pada tahun 1992. Saat itu wabah antraks menyerang Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali. Pada kejadian itu tercatat 25 orang dinyatakan positif terjangkit antraks, 18 orang diantaranya meninggal.

Penyakit Antraks disebabkan bakteri atau kuman Baccilus anthracis, bukan virus. Penyakit ini menular akut yang dapat menyerang pada semua hewan berdarah panas. Penyakit ini juga bersifat zoonosis, artinya bisa menular dari hewan ke manusia. Kuman penyebab antraks ini dapat membentuk spora sehingga tahan hidup di dalam tanah selama bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun. Oleh sebab itu pada daerah enzootik atau endemik kasus antraks seperti Boyolali, maka setiap hewan yang mati karena diduga menderita antraks dilarang dibedah bangkai, apalagi dipotong kemudian dagingnya dimakan. Semua karkas dari hewan yang mati karena antraks atau yang dicurigai antraks harus dikubur sedalam 2 meter dilapisi penutup gamping (kapur) dan daerah tersebut dipagar. Semua material terinfeksi harus dibakar dan semua hewan rentan dijauhkan dari daerah terinfeksi.

Sebelum ini juga diketahui terjadi kasus antraks di desa Ketro kecamatan Tanon kabupaten Sragen Jawa Tengah. Kronologi terjadinya kasus ini dari informasi kematian mendadak pada kambing dan sapi. Selanjutnya diketahui sebanyak 16 ekor sapi dan 26 ekor kambing mati. Sebagian besar kambing dan sapi tersebut dipotong paksa dan “dibruncah”, istilah setempat yaitu dijual murah atau diobral serta dikonsumsi warga sekitar. Hanya beberapa ekor saja yang dipotong paksa dan dikubur.  Sebagian besar jerohan sapi yang dipotong paksa dibuang begitu saja di saluran air dan akhirnya menuju waduk Ketro. Dikuatirkan waduk Ketro dan sekitar akan menjadi tempat subur berkembangnya kuman Baccilus anthracis penyebab penyakit antraks ini.

Pada daerah enzootik dan sekitarnya, kasus antraks ini tidak lagi mengejutkan dan bukan merupakan aib bagi siapapun. Terutama bagi pemerintah daerah setempat, sehingga tidak perlu lagi berusaha menutupi kasus yang terjadi di daerahnya. Namun justru menuntut semua pihak agar lebih waspada, berhati-hati dan mengikuti norma yang berlaku agar antraks yang bisa menyerang hewan dan juga manusia ini bisa segera diatasi, tidak bertahan lebih lama dan tidak memakan korban semakin banyak.

Entry filed under: ternak, veteriner, zoonosis. Tags: .

Aspek Klinik Dan Penularan Pada Pengendalian Penyakit Ternak Penggunaan reptil dalam penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,259 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: