Keracunan Obat Flu

November 5, 2011 at 12:01 am 2 komentar


Seringkali saya temukan pemilik memberikan obat pada kucingnya yang sedang mengalami gejala flu, dengan obat-obatan yang biasanya digunakan pada manusia. Obat-obatan tersebut umumnya mengandung acetaminophen. Tujuan pemilik kucing tentu saja baik, untuk mengatasi gejala flu pada hewan kesayangannya. Namun, harapan tersebut dibayar mahal karena kucingnya tidak membaik justru bertambah parah, bahkan mati.

Acetaminophen dimetabolisme di hepar menjadi bahan toksik dan non toksik. Pada anjing, sebagian besar acetaminophen akan dikonjugasi dengan glucuronide and sulfate oleh enzim transferase, glucuronyl transferase, yang mana enzim tersebut tidak dimiliki kucing. Pada anjing hanya sebagian kecil akan dikonversi menjadi bahan metabolit reaktif oleh sitokrom  P-450-dependent mixed function oxidase (MFO) system. Bahan metabolit reaktif yang terbentuk selanjutnya akan dikonjugasi oleh  glutathione (GSH) dan dieksresikan melalui urine sebagai bahan non toksik. Sitotoksik metabolit, N-acetybenzoquinoneimine, terikat dengan protein hepar dan menyebabkan nekrosis sentrilobuler. Radikal bebas bisa terbentuk melalui MFO system dan menyebabkan kerusakan oksidatif pada molekul seluler, termasuk hemoglobin, berubah menjadi methemoglobin .

Cimetidine, MFO inhibitor yang poten pada hepar, dapat digunakan untuk mengurangi produksi metabolit toksik dan sangat berguna pada kasus ini. Kerusakan hepar terjadi ketika jalur  konjugasi glucuronide and sulfate telah jenuh dan GSH juga habis akibat metabolit acetaminophen yang berlebihan. Bila hal tersebut terjadi, produksi metabolit reaktif dari biotransformati acetaminofen dalam  MFO system bebas terikat dalam makromolekul hepar dan menimbulkan kerusakan oksidatif. Umumnya, kerusakan belum terjadi hingga kadar GSH mencapai 20% dari normal.

Antidota, N-acetylcysteine, bekerja terutama untuk mengembalikan kadar  GSH melalui hidrolisa menjadi cysteine, yang mana cysteine adalah substrat dalam sintesa GSH. Cysteine juga menjadi sumber grup sulfihidril untuk mengikat metabolit reaktif, yang kemudian diekskresikan melalui urine.

Sepertinya derajat kerusakan hepar akibat acetaminophen juga berkaitan dengan umur.  Penelitian menunjukkan bahwa mencit muda mempunyai tingkat proteksi hepar yang lebih baik, karena MFO system masih belum sempurna dan tingkat sintesis GSH yang lebih cepat. Pada mencit dewasa, derajat hepatotoksitas bervariasi karena perbedaan protein hepar yang dapat mengikat metabolit reaktif.

Gejala yang terjadi pada kucing adalah muntah, hipersalivasi, edema pada kaki dan wajah, depresi, frekuensi nafas meningkat, dispnea, membrana muksa pucat. Bisa juga ditemukan gejala sianosis, karena methemoglobinemia. Methemoglobin adalah bentuk non fungsional dari hemoglobin. Hemoglobin berfungsi untuk membawa oksigen di dalam sel darah merah.  Adanya methemoglobin menyebabkan sel darah merah tidak bisa membawa oksigen, sehingga tubuh menunjukkan gejala kekurangan oksigen yaitu sianosis.

Sedangkan pada anjing, gejala yang tampak adalah lethargy, anoreksia, muntah, dan rasa sakit pada daerah perut. Anjing bisa pulih secara spontan dalam 48-72 jam pada keracunan sedang. Bila lebih berat akan terjadi nekrosis hepar, ikhterus, berat badan turun, hemolisis dan hemoglobinuria. Kematian biasanya akan terjadi 2-5 hari setelah gejala klinis muncul.

Keparahan dan kecepatan gejala klinis muncul bergantung pada jumlah obat yang diminum. Tahap awal (0-12 jam) hewan biasanya akan muntah, hipersalivasi, depresi, kesulitan bernafas dan mulai tampak warna selaput mukosa menjadi lebih coklat. Warna selaput mukosa yang normal adalah merah muda. Tahap berikutnya (12-24 jam), hewan akan menjukkan gejala bengkak di sekitar wajah, bibir dan sekitar mata serta alat gerak. Pergerakan biasanya mulai tidak terkontrol, kejang, koma dan bahkan sangat berpotensi tidak tertolong. Stadium terakhir (lebih dari 2a jam) bila hewan masih bertahan diikuti oleh kerusakan pada hepar, rasa sakit pada daerah perut, ikhterus atau kekuningan pada selaput mukosa dan status mental yang jelek atau koma.

Informasi ini perlu pada pemilik hewan kesayangan, agar tidak memberikan obat-obatan tanpa sepengatahuan dokter hewan. Untuk itu sejawat praktisi juga seyogyanya selalu mengingatkan dan memberikan edukasi pada pemilik untuk tidak memberikan obat-obatan pada hewan kesayangannya tanpa sepengetahuan dokter hewan….

Entry filed under: hewan kesayangan, veteriner. Tags: .

Gudang Informasi Di IVIS Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H

2 Komentar Add your own

  • 1. das  |  November 14, 2011 pukul 12:20 pm

    pertolongan yang bisa dilakukan si pemilik apa pak?kalo disini nggak ada dokter hewan

  • 2. Triakoso  |  November 22, 2011 pukul 11:44 am

    @das, biar tidak melakukan pertolongan pertama yang lebih sulit, maka JANGAN MEMBERIKAN OBAT FLU (manusia, yang mengandung bahan-bahan tersebut di atas) PADA HEWAN KESAYANGAN..!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,081 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: