Shock Anafilaksis Kelinci Akibat Ivermectin

April 8, 2012 at 6:04 pm 2 komentar


Kejadian ini sebetulnya telah terjadi dalam beberapa minggu yang lalu.  Dan saya ingin berbagi dengan segenap sejawat dokter hewan dan pemilik hewan kesayangan. Berawal dari pemilik kelinci yang membawa hewan kesayangannya tersebut ke RSHP untuk kontrol scabiosis dua minggu sebelumnya. Berdasarkan hasil periksa masih ditemukan lesi scabiosis sehingga saya merasa perlu memberikan terapi ulang. Terapi saya pilih menggunakan ivermectin produk Merial, sama seperti terapi sebelumnya. Dosis yang saya gunakan juga dosis yang disarankan. Setelah diinjeksi dengan ivermectin juga tidak ada gejala yang janggal/abnormal. Kelinci masuk kembali ke kandangnya bawaannya dan pulang bersama pemilik. Namun tidak lama, kira-kira setengah jam kemudian pemilik kembali ke rumah sakit dengan membawa kelinci serta mengabarkan bahwa kelincinya MATI.
Terus terang ini sesuatu yang sangat mengejutkan. Saya memang belum pernah membaca bahwa pemberian ivermectin akan menimbulkan kejadian yang fatal pada hewan-hewan lain kecuali pada beberapa bangsa anjing (Collie, Shetland sheepdog, Australian sheperd, Old English Sheepdog, Shelties). Ini barangkali suatu kelemahan, tidak mengupdate informasi karena sesuatu sudah berjalan sebagaimana biasanya dan tidak pernah terjadi sesuatupun karenanya. Kelinci dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kaku dalam posisi opistotonus. Di sekitar moncong tampak kebiru-biruan. Pemilik menyatakan kaget, begitu sampai di rumah dan akan mengeluarkan si kelinci, si kelinci telah terbujur kaku.  Sayapun tidak bisa menjelaskan kejadian tersebut dengan detail, kecuali yang saya ketahui bahwa ivermectin cukup aman digunakan pada hampir semua hewan untuk mengatasi parasit kecuali pada beberapa bangsa anjing tertentu. Melihat kejadian ini saya hanya menduga terjadi shock anafilaksis, akibat pemberian ivermectin karena tidak memberikan terapi yang lain. Pemilik mungkin merasa kurang puas dengan penjelasan saya, namun saya tidak bisa menjelaskan hal yang lebih detail, karena semua prosedur telah saya lakukan sesuai standart layanan. Saya sendiri juga merasa kurang puas karena tidak memperoleh informasi yang memadai dengan kejadian tersebut. Selanjutnya saya mencari banyak informasi melalui dunia maya dan juga menanyakan kejadian yang saya alami pada sejawat Dr. Kaset, sejawat saya dari Veterinary Teaching Hospital Kasetsart University (VTH KU). Beliau adalah “dokter hewan spesialis exotic animal” yang saya kenal, bukan sepsialis daam arti yang sebenarnya karena beliau tidak mendapatkan pendidikan khusus untuk itu namun beliau telah menekuni exotic animal sejak lebih dari sepuluh tahun lalu.

Kejadian yang saya alami tersebut ternyata juga pernah terjadi di VTH KU, meski beliau sendiri tidak pernah mengalaminya. Beliau juga sepakat bahwa yang saya alami tersebut adalah shock anafilaksis akibat pemberian ivermectin, beliau menduga yang menjadi penyebab bukan hanya kandungan obatnya tapi juga bahan pembawanya.  Karena alasan tersebut beliau menggunakan Selamectin. Dari beberapa informasi ternyata ivermectin dapat juga menyebabkan shock anafilaksis, seperti reaksi berkaitan dengan vaksinasi atau terapi yang lain. Beberapa menyatakan bahwa kelinci jenis Dutch lebih peka terhadap ivermectin. Kejadian bisa beberapa menit hingga beberapa jam. Kelinci mungkin menjadi pendiam (depress), beberapa mungkin menunjukkan hipersalivasi bahkan kejang-kejang (seizure). Sayangnya kelinci yang saya tangani tidak diketahui gejalanya. Pemilik hanya merasa kelinci lebih pendiam (depress) saat masuk ke dalam mobil, dan tidak menduga yang lain sehingga tidak mengamati lebih jauh. Dan kemudian tahu kelincinya mati saat sampai di rumah setengah jam kemudian.

Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran yang berharga bagi sejawat para praktisi, meski melakukan tindakan medik yang “sepertinya ringan”

Entry filed under: hewan coba, hewan kesayangan, penyakit, veteriner. Tags: , , .

Kolegium Penyakit Dalam Veteriner Indonesia World Veterinary Day 2012

2 Komentar Add your own

  • 1. yuanita sevryana  |  April 17, 2012 pukul 11:27 pm

    saya pernah juga dok mengalamai hal yang sama,oleh karena itu sekarang saya lebih dulu menggunakan dryll sebelum menyuntikkan ivermectin ke tubuh pasien,bagaimana menurut dokter sebagai senior.thanks.regards murid anda drh yuanita sevryana

  • 2. nurina  |  Oktober 1, 2012 pukul 3:49 pm

    Apakah terapi ivermectin yg pertama tdk berbeda dg yg kedua ?.kira kira knp terapi kedua yg bermasalah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,259 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: