Benarkah tindakan melakukan inseminasi buatan bukan kompetensi dokter hewan??

Desember 21, 2014 at 6:10 pm 5 komentar


Ini adalah upaya untuk mengetahui hal-hal yang prinsip pada seorang dokter hewan, khususnya lulusan pendidikan dokter hewan terkait kompetensinya. Masih sering kita ketahui bahwa seorang dokter hewan tidak diperkenankan melakukan tindakan inseminasi buatan, dan harus mengambil kursus selama beberapa bulan untuk memperoleh sertifikat kompetensi melakukan tindakan inseminasi buatan, sama seperti petugas kesehatan hewan yang lain yang tidak memperoleh pendidikan dokter hewan. Hal mana berarti melakukan tindakan inseminasi buatan bukan merupakan kometensi seorang dokter hewan, sehingga dia harus kursus untuk memperoleh sertifikat kompetensi tersebut.

Pertanyaan menggelitik terkait itu adalah, apakah tindakan melakukan inseminasi buatan itu bukan merupakan kompetensi seorang dokter hewan. Jawaban anda akan memberikan informasi penting terkait itu. Polling ini memang diinginkan diisi oleh para dokter hewan untuk mengetahui apakah yang bersangkutan mengetahui kompetensi yang melekat padanya bersama dengan gelar yang disandangnya. Namun tidak menutup juga jawaban polling diisi oleh selain dokter hewan.

Kami menunggu jawaban anda…….

Entry filed under: dokter hewan praktek, ternak, veteriner. Tags: , , .

Kita dan Anthraks Alamat Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia

5 Komentar Add your own

  • 1. Yayan Oki Istyan  |  Desember 21, 2014 pukul 10:57 pm

    Menurut saya mengenai IB bukan kompetensi dokter hewan itu salah dok, karena kegiatan tsb. termasuk dalam otoritas veteriner yg didalamnya terkandung unsur animal husbandry. Lalu untuk dokter hewan yg harus kursus untuk mendapatkan sertifikat itu perlu adanya guna mengupgrade skill masing-masing individu, akan tetapi alangkah baiknya bila di bangku kuliah sudah terfasilitasi dengan baik.

  • 2. ujangsuryanie  |  Desember 22, 2014 pukul 9:18 am

    IB sbg kompetensi dokter hewan, karena filsafat dokter hewan itu adalah sehat dan berproduksi. Utk hewan2 besar spt sapi produksinya adalah menghasilkan daging dan susu. Berkaitan dgn itu sapi hrs terus beranak. Utk itu hrs sehat alat reprodiksinya. Yg tahu sehat alat reproduksi itu yg paling berkopeten adalah dokter hewan. Insiminasi berkaitan dgn kesehatan alat reproduksi dan
    berkaitan dengan status keauburan. Itu ilmu dokter hewan. Dokter hewan belajar fisio reproduksi, belajar kebidanan dan kemajiran. IB bagain dr ilmu2 itu. Hanya saja IB itu kan teknik, jd perlu keterampilan. Di bangku kuliah tdak cukup mengasah keterampilan tiap2 mhs yg jumlahnya buuuaaanyak itu. Jadi perlu diasahlah keterampilanya itu lewat kursus.

  • 3. triakoso  |  Januari 5, 2015 pukul 10:33 am

    Yayan Oki IStyan dan uajngsuryanie, secara prinsip saya berpendapat sama. Bahwa tindakan melakukan insemianasi buatan adalah bagaian dari kompetensi seorang dokter hewan. Ilmu dan kemampuan ketrampilan minimal sudah teruji, karena sudah melalui ujian yang jelas terukur terutama saat pendidikan profesi dokter hewan. Bila tidak lulus ujian insemianasi buatan termasuk ketrampilannya, maka tidak akan menjadi seorang dokter hewan. Oleh sebab itu, hal tersebut menjadi bagian integral otoritas seorang dokter hewan.
    Namun demikian, kenyataan di lapangan termasuk bidang pekerjaan tidak seperti yang kita harapkan. Banyak pihak lain (yang harusnya tidak kompeten) melakukan tindakan yang menjadi kompetensi seorang dokter hewan, dan mereka harus mengikuti kursus agar kompeten. Sayangnya hal tersebut juga diterapkan pada seorang dokter hewan yang notabene sudah membawa kompetensi tersebut. Bahkan tidak jarang yang melarang melakukan tindakan IB tersebut adalah seorang dokter hewan (senior) juga. Saya jadi heran, apa sejawat kita yang senior tersebut tidak mengerti kompetensi yang dibawanya atau apa? Mudah-mudahan bukan karena terkait dengan adanya setoran, upeti atau semacam itu…:D
    Oleh sebab itu, tulisan saya ingin mengetahui seberapa paham seorang dokter hewan mengenali kompetensi yang dibawanya..:D. Meskipun ada juga yang melakukan polling bukan seorang dokter hewan juga. Sehingga ada informasi, pengertian dan pemahaman dari khalayak tentang tindakan melakukan inseminasi buatan terkait dengan dokter hewan.
    Terima kasih sudah berkomentar..

  • 4. drh.viki  |  Januari 5, 2016 pukul 1:13 pm

    Baca PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2012 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL PARAMEDIK VETERINER DAN ANGKA KREDITNYA BAHWA SEMUA PENANGANAN MEDIS DAN INSEMINASI BUATAN HARUS DENGAN PENYELIA DOKTER HEWAN

  • 5. triakoso  |  Maret 6, 2016 pukul 6:58 pm

    Sayangnya kawan dokter hewan yang di dinas, mungkin tidak membaca ini..:( sehingga banyak kasus sejawat dokter hewan terhambat masalah praktik hewan besar salah satunya praktik insimeniasi, oleh sejawatnya yang di dinas peternakan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 212,472 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: