Kita dan Anthraks

Desember 21, 2014 at 8:55 am Tinggalkan komentar


Saya yakin tidak ada yang tidak pernah mendengar kata anthraks. Banyak kesan yang menyeramkan di benak kita terkait kata anthraks, bahwa anthraks dapat membunuh sekian banyak orang, digunakan sebagai media teroris sebagai senjata biologis dan sebagainya. Beberapa waktu terakhir kita dikejutkan terjadi kasus anthraks di Blitar Jawa Timur, daerah yang sebelumnya tidak pernah kita tahu terjadi kasus anthraks pada ternak. Pertanyaan besarnya, mengapa bisa terjadi kasus anthraks di daerah yang tidak pernah ada kasus anthraks sebelumnya, bagaimana bisa terjadi, apa saja yang memungkinkan kasus anthraks terjadi, apa risiko pada ternak di sekitarnya, apa risiko pada orang-orang di sekitarnya dan sebagainya ….

Anthraks adalah penyakit menular yang bersifat akut atau perakut pada berbagai ternak, juga menyerang manusia. Anthraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Nama yang berasal dari bahasa Yunani, batubara (coal) karena adanya ulser dengan pusat berwarna hitam pada orang penderita. Anthraks terjadi hampir di seluruh daerah di dunia kecuali Antartika. Anthraks dapat menyerang hampir semua hewan mamalia namun umumnya terjadi pada ruminansia dan manusia. Anthraks merupakan penyakit zoonosis yang penting karena menimbulkan kematian yang tinggi. Menurut penelitian, kerentanan hewan terhadap anthraks dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu (1) Hewan yang sangat rentan. Ternak ruminansia terutama sapi, kambing dan domba. Selanjutnya kuda, rusa, kerbau dan pemamah biak liar. Kelinci dan mencit juga sangat rentan terhadap anthraks. (2).  Babi tidak begitu rentan. (3) Anjing dan kucing, tikus dan sebagian besar burung relatif tidak rentan namun dapat diinfeksi secara buatan. (4) Hewan-hewan berdarah dingin sama sekali tidak rentan.

Kejadian
Di Indonesia kejadian atau berita tentang suatu penyakit yang sangat menyerupai anthraks terjadi pada kerbau di daerah Teluk Betung dalam “Javasche courant” pada tahun 1884. Berita yang lebih jelas tentang berjangkitnya anthraks di beberapa daerah di Indonesia diberitakan “Kolonial verslag” pada tahun 1885-1886. Selanjutnya tercatat kejadian anthraks pada tahun 1899, 1900-1914, 1927-1928 dan tahun 1930 diberbagai tempat di Jawa dan di luar Jawa. Berdasar catatan, kejadian anthraks di Indoneisa pada sapi, kerbau, kuda, kambing, domba dan babi antara tahun 1906-1957 terdapar di daerah-daerah: Sumatra (Jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, Bukittinggi, Sibolga dan Medan), Pulau Jawa (Jakarta, Purwakarta, Bogor, Periangan, Banten, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Banyumas, Madiun. Bojonegoro), Nusa Tenggara (hampir di semua pulau seperti Sumbawa, Sumba, Lombok, Flores, Timor, Roti dan Bali) dan Sulawesi (Sulawesi Selatan, Menado, Donggala, Palu).
Menurut laporan pada tahun 1975, anthraks hanya terdapat di beberapa tempat, yaitu Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Seltan dan Sulawesi Tenggara.

Penularan
Ada yang mengatakan anthraks adalah “penyakit tanah”, yang berarti penyebabnya berasal dari tanah, kemudian bersama pakan atau minum masuk ke dalam tubuh hewan dan menimbulkan penyakit.
Anthraks tidak lazim ditularkan dari hewan ke hewan atau dari manusia ke manusia secara langsung.  Bakteri anthraks akan membentuk spora saat kontak dengan oksigen. Hal tersebut terjadi bila penderita anthraks mati kemudian tubuhnya dibuka atau termakan burung atau hewan pemakan bangkai. Sproa tersebut selanjutnya mencemari lingkungan dan menjadi sulit dalam pemberantasan. Lebih sulit lagi bila spora tersebut tersebar oleh angin, air pengolahan tanah, rumput pakan ternak dan sebagainya.  Spora ini sangat tahan dan mampu bertahan hidup di dalam tanah selama puluhan tahun, atau di rambut/bulu hewan. Karena darah penderita anthraks tidak membeku sehingga keluar melalui lubang-lubang alami tubuh, serangga (penghisap darah) dapat menyebarkan atau menularkan pada hewan lain.
Bila spora tersebut tertelan, terhirup atau masuk melalui kulit yang terluka, dapat berkembang dan menimbulkan sakit. Periode inkubasi anthraks berkisar 1-3 hari, kadang ada yang sampai 14 hari. Infeksi alami umumnya terjadi melalui saluran pencernaan, dimana spora tertelan dan masuk ke dalam tubuh.  Selain itu infeksi dapat terjadi melalui saluran pernafasan dan permukaan kulit yang terbuka. Karnivora dan manusia dapat terjangkit bila memakan daging penderita anthraks. Namun yang paling umum adalah hewan terjangkit anthraks karena menelan spora yang berada di tanah atau melalui pakan atau minum yang tercemar spora.
Wabah anthraks pada umumnya berhubungan dengan tanah netral atau berkapur yang alkalis yang menjadi daerah inkubator bakteri tersebut. Di daerah tersebut spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif bila keadaan lingkungan serasi bagi pertumbuhannya, yaitu tersedianya makanan, suhu dan kelembaban tanah serta dapat mengatasi persaingan biologik. Bila keadaan tetap menguntungkan, bakteri akan berkembang biak dan membentuk spora lebih banyak.

Gejala
Penyakit anthraks ini dikenal tiga bentuk perakut, akut dan kronis. Bentuk serangan perakut terjadi kematian mendadak tanpa disertai gejala klinis. Namun kadang juga ditemukan sesak nafas, gemetar, kemudian ambruk dan mati. Kadang juga ditemukan gejala kejang. Pada serangan akut, mula-mula hewan mengalami demam, gelisah, depresi, sesak nafas, denyut jantung meningkat tapi lemah, kemudian penderita segera mati. Suhu tubuh bisa mencapai 41,5 oC, ruminasi berhenti, produksi susu berkurang , pada ternak yang bunting terjadi keguguran. Keluar darah dari lubang alami. Pada serangan kronis biasanya terjadi pada babi, kadang terjadi juga pada anjing, sapi atau kuda. Pada babi terdapat lesi lokal pada lidah dan bengkak di daerah tenggorokan. Babi penderita serangan kronis ringan berangsur angsur sembuh, dan kelenjar limfa servikal atau tonsil terdapat bakteri anthraks. Pada bentuk anthraks kutan ditandai kebengkakan diberbagai bagian tubuh.

Rektum sapi penderita anthraks tampak menyembul disertai selaput mukosa rektum tampak kemerahan mengalami perdarahan. Terlihat juga darah keluar dari anus

Rektum sapi penderita anthraks tampak menyembul disertai selaput mukosa rektum tampak kemerahan mengalami perdarahan. Terlihat juga darah keluar dari anus

Pada ruminansia seringkali hewan mati mendadak tanpa gejala. Pada serangan akut, umumnya ditemukan gejala demam, tremor dan kesulitan bernafas atau sesak nafas sebelum kemudian kolaps dan mati. Darah yang tidak membeku tampak keluar dari lubang-luang alami tubuh, hidung, telinga atau anus. Pada bangkai penderita umumnya tidak mengalami kaku mayat setelah mati.
Pada kuda atau juga seringkali pada ruminansia ditemukan gejala rasa sakit pada bagian abdomen atau kolik, demam, depresi dan kadang disertai edema atau kebengkakan di daerah leher, dada, perut atau di bagian kelamin luar. Kadang diikuti diare berdarah. Gejala tersebut bisa berlangsung selama empat hari seblum kemudian mati.
Pada karnivora bila hewan memakan daging penderita yang mengalami anthraks, timbul gejala bentuk pencernaan  seperti diare atau muntah, kadang bibir dan lidah bengkak atau adanya bungkul-bungkul di rahang atas, disertai panas dan kram, yang kadang hewan sembuh dengan sendirinya.

Public awereness
Peran serta masyarakat dalam penanggulanagn penyakit anthraks memegang peranan sangat penting selain tindakan yang dilakukan petugas berwenang. Anthraks adalah penyakit yang bersifat zoonosis, artinya dapat menular dan menimbulkan penyakit pada manusia. Oleh sebab itu sangat penting untuk mengetahui dengan benar penyakit anthraks, agar dapat melakukan tindakan yang benar sehingga mencegah penularan penyakit anthraks pada manusia atau hewan lainnya.
Bangkai penderita anthraks lebih cepat membusuk karena sepsis dan sangat menggembung. Kekakuan mayat setelah kematian bisanya tidak ada atau tidak sempurna. Darah berwarna hitam mungkin keluar dari lubang alami, hidung, telinga atau anus. Selaput mukosa kebiruan dan seringkali ditemukan anus menyembul disertai perdarahan.

Anthraks bentuk kulit pada penderita. Tampak lesi yang khas dengan bagian mengering dan menghitam di tengah luka

Anthraks bentuk kulit pada penderita. Tampak lesi yang khas dengan bagian mengering dan menghitam di tengah luka

Kata kunci terkait kasus anthraks adalah TIDAK BOLEH MEMBUKA BANGKAI penderita anthraks, oleh siapapun, peternak/pemilik ternak, jagal bahkan oleh petugas berwenang (dokter hewan atau paramedis) meskipun untuk alasan diagnostik. Sebab bila tubuh dibuka, bakteri anthraks akan membentuk spora bila kontak dengan oksigen. Bakteri anthraks dalam bentuk spora sangat tahan terhadap kondisi lingkungan sehingga sanggup bertahan puluhan tahun di dalam tanah, dan berisiko menjadi sumber penularan di kemudian hari.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam membantu menuntaskan pengendalian penyakit anthraks antara lain:

  • Melaporkan dengan segera ternaknya yang mengalami kematian mendadak pada petugas berwenang.
  • Tidak melakukan pemotongan paksa atau menyembelih pada ternak yang sakit, terutama bila telah terjadi beberapa kejadian kematian mendadak atau tampak adanya leleran darah keluar dari lubang-lubang alami serta gejala penyakit anthraks yang lain.
  • Pada daerah enzootik anthraks, DILARANG memotong paksa atau menyembelih ternak sakit atau membuka bangkai ternak yang mati, karena sangat mungkin kematian ternak tersebut disebabkan oleh anthraks.
  • Waspadai bila melakukan pembelian ternak dari daerah-daerah enzootik anthraks, terutama bila ternak ditawarkan dengan harga tidak wajar serta terdapat informasi bahwa dalam waktu yang berdekatan telah terjadi kasus anthraks.
  • Waspadai bila melakukan pembelian bahan pakan yang berupa sisa-sisa hasil pertanian dari daerah-daerah enzootik anthraks. Hal ini karena penularan anthraks tidak lazim melalui kontak dari ternak ke ternak lain, melainkan melalui spora bakteri anthraks yang mencemari tanah serta mencemari bahan-bahan atau limbah pertanian yang hendak digunakan sebagai pakan ternak.

Tindakan
Tindakan ini umumnya dilakukan oleh petugas berwenang. Namun seyogyanya juga perlu diketahui oleh masyarakat dan diharapkan masyarakat khususnya peternak turut berpartisipasi dalam menghadapi kejadian anthraks dengan melakukan beberapa tindakan, misalnya melaporkan ternak yang mati mendadak pada petugas, tidak memotong paksa/menyembelih hewan yang sakit terutama pada daerah enzootik anthraks. Hal ini karena membuka atau menyembelih ternak terduga anthraks, justru akan membuat kasus anthraks sulit untuk diatasi.
Beberapa tindakan yang dilakukan dalam melakukan penanggulangan kejadian anthraks adalah tindakan administratif, tindakan pencegahan, penanggulan dan pemberantasan, serta tindakan pengobatan.

Administratif

  1. Peternak dilarang memotong paksa atau membuka bangkai hewan yang menglami kematian mendadak, terutama di daerah enzootik anthraks dan segera melaporkan pada petugas berwenang.
  2. Petugas berwenang mengirim bahan pemeriksaan penyakit ke laboratorium berwenang untuk peneguhan diagnosis anthraks.
  3. Laporan Dinas Peternakan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan kepada Pemerintah Daerah tentang terdapatnya kejadian anthraks.
  4. Pernyataan tentang terdapat atau bebasnya suatu daerah terhadap anthraks oleh Kepala Pemerintah Daerah setelah adanya peneguhan teknis.

 

Pencegahan

  1. Bagi daerah yang bebas anthraks, tindakan pencegahan didasarkan pada pengaturan yang ketat terhadap pemasukan hewan ke daerah tersebut.
  2. Anthraks pada ternak dapat dicegah melalui tindakan vaksinasi di daerah enzootik setiap tahun disertai pengawasan dan pengendalian yang ketat.
  3. Untuk hewan tersangka sakit anthraks, diambil tindakan salah satu dari beberapa tindakan berikut:
  • Penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan (hewan besar 20-30 ml, hewan kecil 10-20 ml)
  • Penyuntikan antibiotika
  • Penyuntikan kemoterapeutika
  • Penyuntikan antiserum dan antibiotika atau antiserum dan kemoterapeutika.
  • Setelah 14 hari, bila tidak timbul gejala penyakit dilanjutkan dengan tindakan vaksinasi.

 

Pengendalian dan pemberantasan

  1. Hewan yang menderita anthraks diasingkan sehingga tidak kontak dengan hewan-hewan lain. Kandang isolasi tersebut dilengkapi lubang sedalam 2,0-2,5 meter untuk menampung sisa pakan dan tinja dari hewan sakit tersebut.
  2. Setelah penderita mati, sembuh atau setelah luang tersebut terisi sampai 60 cm, lubang harus ditimbun dengan tanah segar.
  3. Dilarang menyembelih atau melakukan potong paksa hewan-hewan yang sakit.
  4. Hewan tersangka tidak boleh meninggalkan halaman dimana dia berdian, sedangkan hewanlain tidak boleh dibawa ke tempat tersebut.
  5. Jika diantara hewan tersangka tersebut timbul gejal-gejal penyakit, maka hewan tersebut diasingkan menurut cara diatas (1)
  6. Jika hewan-hewan yang tersangka sakit, dalam waktu 14 hari tidak ada yang sakit, hewan-hewan tersebut dibebaskan kembali.
  7. Di pintu yang menuju halaman dimana hewan tersebut sakit atau tersangka sakit dipasang papan bertuliskan “Penyakit Hewan Menular Anthraks” disertai nama penyakit yang dimengerti di daerah tersebut.
  8. Bangkai hewan yang mati karena anthraks harus segera dibinasakan dengan dibakar habis atau dikubur dalam-dalam.
  9. Setelah penderita mati atau sembuh, kandang dan semua peralatan yang tercemar harus disucihamakan.
  10. Kandang dari bambu atau alang-alang dan semua peralatan yang tidak bisa didiesinfeksi harus dibakar.
  11. Dalam suatu daerah, penyakit dianggap telah berlalu setelah lewat 14 hari sejak matinya atau sembuhnya penderita terakhir.
  12. Untuk mencegah perluasan penyakit melalui serangga, dipakai obat-obatan pembuh serangga.
  13. Hewan yang mati karena anthraks dicegah agar tidak dimakan oleh hewan pemakan bangkai.
  14. Tindkan sanitasi umum terhadap orang yang kontak dengan hewan penderita penyakit dan untuk mencegah perluasan penyakit.

 

Pengobatan

  1. Karena sifat penyakit yang sangat menular dan fatal, pengendalian penyakit didasarkan pengobatan dilakukan seawal mungkin disertai tindakan pengendalian yang ketat.
  2. Pada hewan sakit diberikan antiserum dengan dosis kuratif atau pengobatan 100-150 ml untuk hewan besar dan 50-100 ml untuk hewan kecil. Penyuntikan antiserum homolog secra intravena atau subkutan, sedangkan antiserum heterolog secara subkutan. Jika diperlukan penyuntikan pengobatan dapat diulang secukupnya. Lebih dini pemakaian antiserum sesudah timbul gejala penyakit, lebih besar kemungkinan memberikan hasil yang baik.
  3. Hewan tersangka sakit atau yang sekawanan/sekandang dengan hewan sakit, diberi suntikan pencegahan dengan antiserum (lihat tindakan Pencegahan). Kekebalam pasif timbul seketika, tetapi hanya berlangsung tidak lebih dari 2 minggu.
  4. Pemberian antiserum untuk pengobatan dapat dikombinasi dengan antibiotika. Jika tidak tersedia antiserum, dapat dilakukan tindakan berikut:
  • Anthraks stadium awal pada kuda atau sapi, diberi procain penicillin G dilarutkan dalam air suling steril dengan dosis untuk hewan besar 6.000-20.000 IU/kg berat tubuh, diberikan tiap hari secara intramuskular. Untuk hewan kecil 20.000-40.000 IU/kg berat tubuh diberika tiap hari secara intramuskular.
  • Streptomycin 10 gram untuk hewan besar seberat 400-600 kg) diberikan setiap hari dalam dua dosis secara intramuskular dianggap lebih efektif dibanding penicillin. Bisa juga melakukan kombinasi Pencillin-Streptomycin. Selain penicillin dapat juga digunakan Oxytetracyclin. Untuk sapi dan kuda dosis inisial 2 gram secara intravena atau intramuskular, kemudian 1 gram tiap hari selama 3-4 hari atau sampai sembuh.  Antibiotik lain yang dapat digunakan adalah Chloramphenicol, Erythromycin atau Sulfonamide, namun obat-obatan tersebut kurang efektif dibanding penicllin atau tetracycline.

 

Referensi:

  • Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. 1981. Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian. Jilid I. Jakarta
  • The Merck Veterinary Manual. 1998. Eight Edition. Philadelphia.
  • Anthrax. General Disease Informastion Sheets. OIE.

Entry filed under: penyakit, ternak. Tags: , .

Wabah Ebola, Ancaman Terhadap Kesehatan Dunia Benarkah tindakan melakukan inseminasi buatan bukan kompetensi dokter hewan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 213,259 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: