Enterokokosis, bom waktu pada hewan kesayangan

Juni 16, 2016 at 11:04 pm 2 komentar


enterococcus stefano teriarotti

Enterococcus sp. (Stefano Teriarotti)

Hewan kesayangan, anjing atau kucing merupakan hewan yang paling dekat dengan manusia. Interaksi keduanya bisa sangat intens, dengan memegang, mengelus, memeluk bahkan mencium. Terkait dengan hal tersebut ada yang perlu diwaspadai oleh pecinta hewan kesayangan, karena selain menjadi penyejuk hati, hewan kesayangan juga berpotensi menularkan dan menjadi sumber penularan penyakit pada manusia khususnya pemilik atau pecinta hewan kesayangan. Penyakit yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia disebut sebagai penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis yang sangat dikenal pada anjing atau kucing adalah rabies dan toksoplasmosis. Namun selain kedua penyakit tersebut ada juga penyakit zoonosis lain yang juga serius namun belum mendapat perhatian dengan baik, yang bisa menjadi bom waktu bila tidak ditangani dengan baik dan dicegah sejak dini, yaitu enterokokosis.

Enterokokosis adalah penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri Enterococcus sp. Bakteri ini merupakan bakteri komensal yang ditemukan pada berbagai hewan dan lingkungan. Enterokokus adalah bakteri kokus yang ditemukan pada intestinal berbagai spesies, baik hewan maupun manusia. Bakteri ini disebut juga dengan Nonhemolytic streptococci, gamma haemolytic streptococci, enterococcus, group D streptococci, serta sebelumnya disebut sebagai Streptococcus faecalis dan Streptococcus faecium. Enterokokus adalah bakteri gram positif, fakultatif anaerobik dan masih bertahan hidup pada suhu 60 oC dalam waktu singkat. Enterokokus biasanya berpasangan atau berderet membentuk rantai pendek, dan secara fisik sulit dibedakan dengan Streptococcus. Enterokokus terdiri lebih dari 17 spesies, antara lain E. avium, E. gallinarum, E. casseliflavus, E. duran, E. raffinosus, E. mundtii. Enterokokus yang paling dikenal adalah Enterococcus faecalis, serta Enterococcus faecium yang terkait dengan vancomycin-resistant enterococci (VRE).

Pada manusia, berbagai penyakit dapat ditimbulkan akibat infeksi enterokokal antara lain sistitis, pyelonefrits, perinefrik abses, prostatitis, endometritis, salfingitis, endokarditis, menginitis. Pada kulit bisa menimbulkan “burn wound infections”. Penderita bisa mengalami risiko tinggi kegagalan terapi dan kematian. Hal ini karena bakteri enterokokus mempunyai kemampuan untuk resisten terhadap antibiotika.

Infeksi saluran kemih pada manusia biasanya diperoleh dari rumah sakit (nosokomial), misalnya melalui proses kateterisasi. Infeksi saluran kemih dapat menimbulkan sistitis (radang kandung kemih) atau pieolenfritis (radang pada pielum ginjal), bisa juga berkembang menjadi prostatitis, atau abses perinferik.

Penyakit bisa menyebar menjadi bakterimia, akibat infeksi yang bersumber dari saluran kemih, luka, luka bakar, foki intra-abdominal, atau kateter intravaskular. Sekitar 5-15% kasus endokarditis (radang bagian dalam jantung, umumnya pada katub jantung) disebabkan oleh enterokokus. Sebagian besar endokarditis enterokokal merupakan left-sided atau terjadi di bagian jantung kiri dan penyebabnya terkait dengan VRE, vancomycine-resistant enterococcus.

Enterokokus secara inheren resisten terhadap berbagai antibiotika seperti cephalosporin, clyndamycin, penicillin, trimethoprim serta mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk terus menjadi resisten. Multidrug-resistant (MDR) enterokokus, khususnya yang resisten terhadap vancomycine (VRE) menjadi persoalan penting pada kesehatan manusia dan menjadi “emerging issue” pada hewan kesayangan. Selain VRE, baru-baru ini juga ditemukan enterokokus yang resisten terhadap ampicilin, Ampicillin-Resistant Enterococcus faecium (AREF).

Penelitian-penelitian lain makin membuktikan resistensi antibiotika makin serius, di Portugal makin banyak anjing yang resisten terhadap antiobiotika, di Italia juga demikian diman anajing yang diperiksa ke RSH banyak resisten terhadap fluoroquinolone, tetrasiklin, makrolide, rifampin. E. faecium yang resisten terhadap tetrasiklin dan makrolide juga dilaporkan di Belgia.

Penelitian Damborg dkk (2009) menemukan bahwa telah terjadi resistensi enterokokus terhadap Ampicillin (Ampicillin-Resistant Enterococcus faecium, AREF) setelah memeriksa feses 208 anjing di Inggris dan Denmark. Temuan adanya AREF ini kemudian memberi bakteri tersebut dengan label CC17. CC17 merupakan isolat yang ditandai resisten terhadap ampicilin dan fluoroquinolone, selain itu juga diduga gen yang mengkode virulensi yaitu enterococcal surface protein (esp) dan hyaluronidase (hyl) dan lima open reading frames (ORFs; orf903, orf904.5, orf906.7,orf2351, and orf2430) yang mengkode LPXTG surface proteins, yang juga ditemukan pada E. faecium lineage.

Reservoir dan cara penularan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hewan kesayangan, khususnya anjing menjadi resevoir enterococcus. Penelitian de Niederhäusern dkk (2007) dan Devriese dkk (1996) menunjukkan terjadinya infeksi enterokokus di rumah, dan di beberapa tempat cukup prevalensinya tinggi. Di Belanda diketahui 48% merupakan VRE pada anjing yang terinfeksi enterokokus. Penyebabnya diduga kuat terkait dengan avoparcin yang ditambahkan pada pakan hewan. Avoparcin adalah antibiotika glikopeptida yang ditambahkan pada pakan untuk tujuan sebagai growth promoter. Penelitian Wagenvoort dkk (2003) menjawab keraguan banyak pihak terkait dengan avoparcin, dimana setelah dilarang digunakan, dalam 5 tahun terbukti tidak ada VRE pada 100 anjing yang diteliti.

Penelitian Ghosh dkk. (2011) lebih mengejutkan, dimana menemukan anjing yang pulang dari perawatan intensif membawa banyak enterokokal MDR dengan kemampuan membentuk biofilm dan tranfer gen horisontal, serta beberapa diantaranya ditemukan enterokokus yang identik pada manusia yang pernah diisolasi dari wabah yang terjadi di rumah sakit.

Informasi terkini menjawab keraguan banyak pihak, enterokokus terbukti merupakan penyakit zoonosis. Riset Damborg dkk. (2008) membandingkan strain bakteri komensal pada hewan dan manusia untuk mengetahui transmisi di dalam rumah antara manusia dan hewan kesayangannya, dan mengevaluasi terhadap kontak dengan hewan kesayangan yang menjadi risiko infeksi enterokokal pada manusia. Hasil riset membuktikan bahwa benar terjadi penularan bisa terjadi interspesies di dalam rumah dari anjing pada pemilik atau sebaliknya, dengan risiko yang lebih tinggi pada hewan kesayangan yang tertular VRE dari pemilik.

Pendapat Weese dan Martha (2011) skrining enterokokal, termasuk VRE pada hewan kesayangan tidak diperlukan, meskipun ditemukan infeksi pada manusia  Enterokokus adalah bakteri komensal dan enterokokus MDR akan umum ditemukan. Mash belum ada panduan yang obyektif dalam menatalaksana enterokokus MDR pada hewan kesayangan. Terapi juga tidak diperlukan untuk mengeliminasi bakteri komensal gastrointestinal, dan terapi bisa memicu resistensi yang lebih lanjut. Cara hidup yang sehat perlu diperhatikan, sanitasi lingkungan dan mencuci tangan, menghindari kontak dengan feses lebih baik dalam mencegah penularan. Hewan kesayangan yang secara klinis diketahui terinfeksi enterokokus MDR harus dirawat dengan baik dan tidak berkeliaran baik di dalam rumah maupun di klinik dengan memperhatikan aspek sanitasi dan higienitas.

 

Entry filed under: penyakit, zoonosis. Tags: , , , , .

Toksokariasis, serangan tersembunyi dari hewan kesayangan

2 Komentar Add your own

  • 1. kurnia ks  |  Juni 21, 2016 pukul 7:59 am

    Boleh minta tolong ?🙂

  • 2. triakoso  |  Juni 21, 2016 pukul 6:30 pm

    Soal apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 212,472 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: