Toksoplasma bukan virus, Antraks bukan virus

Januari 25, 2017 at 6:24 am Tinggalkan komentar


Belakangan ini berita yang cepat beredar dan tersebar luas disebut viral (virus). Sebutan ini digunakan untuk menggambarkan proses penyebarannya diibaratkan infeksi serangan virus, yang oleh kebanyakan orang diasumsikan demikian. Meski sebenarnya penyebaran penyakit yang sangat cepat bukan hanya disebabkan virus saja.

Entah karena asumsi tersebut atau sebab lain ternyata pandangan publik tentang penyakit yang menular pada manusia dan berbahaya dikatakan juga sebagai virus. Sebut saja beberapa kasus yang sering kita dengar atau baca dalam media, bahwa toksoplasma disebut sebagai virus. Juga pada berita kasus antraks yang saat ini menjadi perhatian di Jogjakarta, disebut bahwa penyebabnya adalah virus antraks.

Tulisan ini kami sampaikan untuk menjadi informasi, meluruskan pengetahuan publik bahwa toksoplasma bukan virus, antraks juga bukan virus.

Toksoplasma adalah parasit. Parasit yang sangat kecil yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Toksoplasma adalah parasit protozoa. Inang definitifnya adalah kucing, artinya toksoplasma dapat berkembang biak secara sempurna hanya di dalam tubuh kucing. Namun demikian kucing bukanlah sumber penularan langsung toksoplasma, baik pada manusia maupun hewan lain termasuk kucing lain. Sumber penularan toksoplasma adalah ookista, telur yang sangat kecil hasil perkawinan toksoplasma jantan dan betina. Ookista ini keluar bersama kotoran kucing. Ookista ini tidak serta merta bisa menular dan menyebabkan penyakit pada pada individu lain bila tertelan. Ookista membutuhkan suatu kondisi agar berubah sifat menjadi infektif atau bisa mengingeksi. Perubahan kondisi tersebut dikenal sebagai SPORULASI. Proses sporulasi terjadi beberapa hari di luar tubuh kucing dengan kondisi yg sesuai, lembab dan tertutup. Oleh sebab  itu kotoran kucing yang mengandung ookista yang baru keluar dari tubuh kucing meski mengandung jutaan ookista tidak akan menyebabkan sakit. Penularan bisa terjadi dari ookista yang sudah mengalami sporulasi, biasanya berada di tanah. Ookista ini bisa mencemari sayur sayuran, pada tangan atau sela kuku saat berkebun, dll. Atau termakan oleh hewan lain misalnya ayam, sapi atau domba yang merumput dan akan menderita toksoplasmosis.

Selain dari ookista, manusia atau hewan juga bisa terluar dari bentuk toksoplasma yang lain yang berada di jaringan. Pada individu yang terinfeksi, toksoplasma bisa berada dan menetap di jaringan atau organ. Kucing bisa menderita toksoplasma bila memakan tikus yang menderita toksoplasma. Manusia bisa tertular bila memakan daging atau telur dari hewan penderita toksoplasma, bila tidak dimasak dengan baik.

Antraks juga bukan virus. Antraks adalah bakteri, tepatnya Baccilus anthrax. Penularan antrak ini tidak terjadi melalui kontak dengan penderita. Penularan bisa terjadi bila seseorang atau hewan memakan atau menelan spora antraks. Bakteri antraks bisa berubah bentuk menjadi spora bila bakteri yang ada di dalam tubuh penderita kontak dengan udara. Hal ini bisa terjadi bila penderita disembelih atau dibuka/dibelah (yang sudah mati). Oleh sebab itu hewan yang dicurigai menderita antraks terutama di daerah endemik, DILARANG DISEMBELIH, meski untuk tujuan diagnosis, untuk mencegah bakteri antraks di dalam tubuhnya berubah menjadi spora.

Antrak yang berbentuk spora sangat tahan terhadap lingkungan dan bisa bertahan di dalam tanah hingga puluhan tahun, dan berpotensi menjadi sumber penularan berikutnya. Oleh sebab itu hewan mati yang dicurigai antrak tidak boleh dibuka tubuhnya dan dikubur dalam dalam. Spora antrak bisa muncul kembali ke permukaan tanah bila tempat hewan mati tersebut digali atau tergerus air hujan. Spora ini bisa menular bila mencemari rumput dan tertelan, atau terbawa angin dan terhirup.

Hewan atau manusia juga bisa tertular bila memakan daging penderita.

Penderita antraks atau dicurigai antraks yang masih hidup bisa diterapi dengan baik dengan antibiotika.

Iklan

Entry filed under: penyakit, zoonosis. Tags: , , .

Enterokokosis, bom waktu pada hewan kesayangan Pakan Kering Meningkatkan Risiko Diabetes Pada Kucing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Blog Stats

  • 249,742 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: